Once You Stop Learning You’re Dying

Kalau ada hal yang saya benci di dunia ini, maka salah satunya adalah “kebodohan yang fanatik” meskipun harus saya sadari, mereka hanya belum belajar, mereka belum memahami, mereka belum tahu. Dan butuh hati serta kebesaran jiwa untuk mengerti alasan-alasan itu: sabar.

Saya menulis ini saat tengah membaca buku Dale Carnegie: How to Win Friends and Influence People. Sebuah pertanyaan menggelitik saya, “apa yang harus kita pelajari setelah kita dewasa?” Jawabannya banyak. Bahkan Albert Einstein mengatakan, “once you stop learning you’re dying.” Hari di mana kita berhenti belajar adalah hari di mana kita mulai berhenti untuk hidup.

Saya melihat banyak orang menganggap pendidikan hanya berasal dari sekolah, dan ketika mereka sudah menuntaskan pendidikan formal maka semuanya selesai begitu saja. Fokus mereka adalah mencari pekerjaan dan membina keluarga, hidup selanjutnya berjalan stagnan seperti itu. Membosankan bukan? Namun berapa banyak orang yang menyadari jika kehidupan yang mereka jalani menjemukan? Lalu berapa persen dari orang-orang tersebut yang berani mengambil resiko dan meninggalkan kemonotonan itu?

Banyak juga orang yang terjebak dengan pemikiran belajar hanya diperoleh dari bangku sekolah. Padahal pendidikan yang sebenarnya justru ada di luar sana. Sekolah hanya menyumbang beberapa persen pengetahuan dengan bonus gelar yang kita butuhkan untuk mencari pekerjaan, tetapi ia tidak memberikan skill kalau kita tidak ulet dan telaten mempelajarinya.

Mengulang pertanyaan yang saya baca di buku Dale Carnegie, berapa banyak lulusan IT, Teknik Mesin, Akuntan, Arsitek, Ahli Biologi, dll, yang betul-betul menguasai bidang pekerjaan yang pernah mereka pelajari selama bersekolah? Hanya segelintir yang menekuni bidang yang mereka pelajari, mayoritas orang hanya memiliki keahlian biasa-biasa saja. Bukan karena mereka bodoh, tetapi karena malas untuk belajar dan mengembangkan diri. Dan bagi saya orang-orang tersebut adalah orang-orang yang kalah, orang-orang yang sudah mati. Yang lebih menyedihkan lagi adalah melihat teman-teman saya berada di atas tumpukan mayat orang-orang yang kalah tersebut. Padahal kita masih muda, kepala tiga pun belum terlampaui, tetapi banyak dari kita berhenti memberi nutrisi kepada otak. Saya harap melalui tulisan ini teman-teman mau meninggalkan zona nyaman dan kembali semangat belajar lagi, karena tidak ada kata terlambat menjadi seorang ahli.

Jakarta, 2 Juni 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s