[JURNAL] Naik Gunung Itu Mahal!

Salah satu penyesalan terbesar saya adalah bahwa saya tidak mencatat setiap malam sebelum tidur tentang cara saya membangun bisnis. Sekarang orang selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang saya lakukan ketika saya dan kakak saya pertama kali memulai bisnis atau bagaimana semua ini bisa tercapai. Dan meskipun itu hanya dua tahun dan saya masih punya catatan dari beberapa peristiwa besar dan kejadian yang signifikan, saya sudah lupa banyak rincian dan bagaimana saya merasa, yang mungkin telah menjadi bagian paling menarik dari cerita kalau saja saya menuliskannya dalam catatan pribadi –Stacey Ferreira

 

Sebetulnya saya sudah tahu fakta ini sejak lama jika orang-orang hebat menuliskan kisahnya ke dalam sebuah jurnal. Tetapi yang menggerakkan saya untuk mencoba konsisten adalah quote dari Stacey Ferreira. Jadi saya putuskan di ulang tahun saya yang kedua puluh empat ini saya akan menghadiahi diri saya sebuah jurnal, yang saya namai konsistensi menulis. Yang sumpah, sebelum hari ini tiba itu kegiatan yang sulit sekali saya penuhi.

Pertama-tama terima kasih untuk papa-mama saya untuk hari ini, kedua terima kasih pada teman-teman saya yang menyempatkan diri mengucapkan selamat ulang tahun, padahal saya orang yang sering lupa tanggal dan hari ulang tahun orang lain. Bukan karena tidak sayang. Tapi bagi saya, kasih sayang tidak hanya ditunjukan pada hari-hari dan kasus-kasus spesial, meskipun untuk orang tertentu yang menganggap hal-hal remeh seperti ini sebagai patokan hidup dan mati saya akan mengingat untuk mengucapkan selamat ulang tahun, karena saya amat sangat menyayangi kamu.

Tidak banyak yang saya lakukan hari ini kecuali makan, makan, makan, dan membaca buku karangan Budi Syafa’at yang berjudul Mulailah Berbisnis Sebelum Usia 25 Tahun. Melakukan sedikit riset Gunung Gede yang akan saya jadikan salah satu destinasi mendaki untuk open trip. Lalu stand by registrasi di NIH. Yang lain-lain adalah mengobrol via chat dan twitter dengan teman RW & NW, terlibat banyak obrolan yang sudah mirip nasi campur topiknya.

Tetapi karena ini adalah catatan perjalanan bisnis saya, topik akan saya batasi pada pertumbuhan dan penemuan saya.

Tiga hari ke belakang saya belajar banyak sekali hal dari orang-orang yang sosoknya hanya saya kenal melalui tulisan, meskipun terbersit dipikiran saya: betapa senangnya saya kalau suatu hari nanti bisa mengenal salah satu dari mereka secara langsung. Berbagi mimpi dengan orang-orang yang lebih dulu hebat tersebut.

Lalu apakah mimpi saya itu?

Mimpi saya hari ini adalah wisata murah, hiking atau naik gunung itu bukanlah wisata yang mahal, terjangkau kok oleh kantong siapapun. Itu yang ingin saya wujudkan. Melihat banyak trip organizer yang mematok harga gila-gilaan untuk paket naik gunung per-orang, wow sekali pikir saya, mengingat hiking itu bukanlah wisata mewah. Satu-satunya kemewahan yang kita dapat adalah pengalaman sepanjang perjalanan. Langkah demi langkah yang kita ayunkan yang meniti hingga ke puncak gunung dengan pasti. Itulah yang tidak tergantikan.

 

Jakarta, 16 Oktober 2016
Advertisements

One thought on “[JURNAL] Naik Gunung Itu Mahal!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s