Fenomena Awkarin

Gak ada grup yang lebih oke dibanding Grup Slytherin emang, obrolannya Masya Allah, dari hal-hal receh nyetalkerin Awkarin sampai bahas Erdogan dan Perang Syria pun jadi.

Fenomena Awkarin ini sedang jadi hiburan di grup bahkan mewarnai lini masa twitter @shedventure (bertahan di hari kedua sebagai bahan obrolan di grup yang pokok bahasannya bisa berpindah topik secara cepat itu emang sesuatu).

Satu hal yang saya sadari, terutama saat menonton vlog-nya Karin. Saya sudah tua! Sudah melewati masa-masa itu bertahun-tahun lalu, jadi yang nge-judge yuk ngaca guys, masa mudamu dulu atau paling gak di sekelilingmu macem apa—yang membedakan cuma terekspose gak terekspose, kebetulan zaman sudah maju dan memviralkan sesuatu merupakan hal yang mudah.

Saya mempersembahkan tulisan ini buat temen-temen saya yang gila waktu kami masih menginjak masa remaja: untuk ukuran zaman saya, orang luar bakalan bilang kami rusak, tapi peduli apa deh? Toh saya punya kalian semua sampai detik ini, dan bikin semua orang iri karena persahabatan kita long last.

Kita ketemu satu tahun sekali—dan bound itu rasanya gak berubah, tetep aja banyak yang diceritain, banyak yang diobrolin, banyak yang dikangen-kangenin, cuma minus sikap agresif kita menghadapi masalah, yang menunjukkan kita semua udah besar dan menghadapi problema-problema baru dengan cara dan kebijaksanaan baru. Nola yang galau kapan dilamar Mas Jalu, Sukma yang jauh di Palembang bergelut dengan kehidupan pernikahannya dan cinta masa lalunya, Dita yang semua orang menganggap lu gak bisa move on, dan percintaannya sekarang yang gak sehat. Yusi yang lagi bahagia-bahagianya sama pacarnya yang 5 tahun lebih muda, patut dicontoh, karena drama sama mantannya yang sebelumnya sangat tolol. Wati being Wati, gak berubah, tetep aja sibuk sama olahraga thingy. Dan saya sendiri yang masih jadi alien di mata kalian #okesipp

Mungkin hidup saya yang paling indah saat mengenal kalian karena banyak hal saya lalui terutama berbagai jenis kenakalan (soalnya hal terindah kedua adalah saat saya nyemplung di dunia RPG, belajar nulis, dan ketemu Geng Slytherin, yang bener-bener bisa nyambung ngomongin apapun. Kalau gak ada mereka saya pasti masih alay dan mungkin lebih parah kebinalannya dari Awkarin. Belum lagi temen-temen SMA, LNC terutama). Kalian lah orang-orang yang mewarnai hidup saya. Tetapi emang gak ada yang bisa kasih pengalaman lebih gila dari temen-temen SMP. Dan saya bisa jadi Dalis kedua dengan mengungkapkan aib-aib kita ke publik, yang setiap tahunnya bikin kita berkaca dan tertawa: mulai dari guru yang paling galak, siapa aja yang pernah dihukum, siapa yang langganan BP, siapa yang paling pelit pas ujian dan kikir pas dicontekin, Dalis jadi semacam beo masa lalu. Tetapi sadar kah kamu? Bahkan murid yang peringkatnya paling bontot pun hidup sebaik-baiknya, teman kita yang paling nakal pun kayak Ridwan bisa insyaf dan jadi anak manis dan sayang orang tua, sukses dengan caranya.

Dan saya merasa yakin saat melihat Karin, setiap orang punya masanya masing-masing. Dan hal itu akan jadi cerita terindah yang mewarnai hidup kita.

Melihat Fenomena Karin saya ingin mengucapkan terima kasih telah menjadi teman saya, terima kasih sudah melakukan trial and error sama-sama.

Saya cuma mau tanya, kisah kita boleh saya jadiin blog series gak? Kayaknya lucu, cuma biar orang-orang lihat dan terbuka matanya. Gerah juga lihat orang sok suci soalnya.

 

Wates, 20 Juli 2016
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s