The Little Prince Effect

Entah sejak kapan saya memutuskan belajar untuk menjadi lebih jujur, lebih terbuka—orang-orang mungkin menganggap saya kotak misteri, yang sulit ditebak apa isinya.

Yang lain berfikir saya orang yang terbuka. Padahal sebenarnya tidak. Sejak dulu, berbagi hal paling pribadi adalah apa yang sangat saya hindari. Saya menghindari ikatan. Karena mungkin saya takut kecewa dan terluka. Tetapi di sisi lain saya memang tidak suka urusan saya dicampuri orang lain. Ada rasa jengkel dan tidak nyaman ketika orang lain melakukan itu, berani menyentuhkan jari kakinya di lingkaran yang sudah saya buat. Saya tahu niat mereka sebenarnya baik: peduli. Tetapi saya benar-benar orang yang posesif dengan privasi yang saya miliki.

Saya merasa saya memiliki banyak sekali teman, tetapi kadang-kadang saya memikirkan ulang apa itu definisi teman dan definisi sahabat. Dan saya tidak menemukan definisi yang tepat untuk kedua kata tersebut. Saya hanya menjalaninya.

Saya mempunyai sahabat-sahabat masa kecil yang dulu begitu dekat, bahkan sampai sekarang pun saat kami bertemu dan menghabiskan waktu bersama, ikatan itu belum berubah, meskipun saya melewatkan banyak sekali moment penting dalam kehidupan mereka.

Saya mempunyai teman-teman SD yang sudah tidak saya dengar lagi kabarnya kecuali beberapa yang tidak sengaja muncul dalam lini masa facebook saya, atau tiba-tiba saya hubungi karena ada keperluan, atau pun sebaliknya.

Saya mempunyai sahabat-sahabat SMP yang masih menyempatkan diri untuk berkumpul sampai detik ini. Dulu kami berbagi banyak hal, kenangan demi kenangan, dan kami menjaganya sampai sekarang ikatan tersebut.

Saya mempunyai sahabat-sahabat SMA yang beberapa masih intens saya temui dan berbagi kabar. Yang lainnya hanya saya temui saat kami berkumpul untuk temu kangen.

Kehidupan memisahkan kami, membuat kami berjalan di jalan masing-masing yang berbeda arahnya, yang berbeda nasibnya.

Sejak 2010 saya bertemu teman-teman baru, dari hobi, dari komunitas, dari kampus, bahkan saya temukan tidak sengaja di jalanan.

Saya tahu saya adalah orang yang paling payah menjaga silaturahmi dan sebelum semua itu terlambat saya ingin kembali menegaskan benang merah yang saya miliki dengan mereka, sebelum terlambat, dan sebelum saya menyesalinya.

Saya tahu sudah saatnya saya mengatasi rasa takut saya terhadap ikatan dengan orang lain. Sekali lagi belajar untuk selalu ada dan belajar mendengarkan. Meskipun sesungguhnya saya tidak pernah kemana-mana. Saya selalu di sini. Saya selalu akan ada ketika teman-teman membutuhkan saya meskipun saya merupakan orang yang paling pelit menyapa.

Sialan memang, Little Prince karya Antoine de Saint Exupery membuat saya lebih emosional hari ini. Padahal saya tidak benar-benar menyerap isi bukunya. Padahal saya tidak akan mampu membuat proper review­-nya tanpa membaca ulang buku tersebut.

Mungkin saya cuma kangen dan merasa ditinggalkan oleh satu lagi teman saya yang akan menikah. Saya tidak mempermasalahkan pernikahannya. Saya suka sekali dengan Inel justru. Dan berdoa semoga Yudith dan Inel dikaruniai kebahagiaan dan rejeki yang melimpah ruah. Dan semoga Inel tidak pernah menolak saya dan baper. Because I would like to love both of you, kayak saya sayang banget sama pasangan Nana & Aldy, dan mendoakan kebahagiaan mereka selalu, bareng Rinjani, bareng calon anak kedua mereka.

Saya merasa saya akan kangen sekali dengan Yudith yang sudah pindah ke Bandung, yang akan sulit saya temui dan ajak jalan, yang bahkan belum sempat saya temui sebelum kepindahannya, yang pernikahannya tidak akan sempat saya hadiri karena long trip saya di bulan Agustus nanti. Yang kemungkinan besar honeymoon-nya akan saya ganggu. Well, sorry not sorry, seperti yang saya bilang: pokoknya saya bobok di tengah sih 😀 😀 😀

Untuk pertama kalinya saya merasa saya harus menjaga ikatan yang saya miliki, karena biasanya saya cenderung melepaskan, tetapi yang satu ini, saya gak rela.

Saya tahu ada yang berubah dari dalam diri saya, dan dengan adanya kesempatan itu saya mau sekali, sekali lagi memperkuat kemistri saya dengan teman-teman.

You know where to find me, meski saya menyarankan e-mail sih, kalau ada yang bersedia. Saya colekable di manapun WA/Line. Ini e-mail dan twitter saya:

larasestuhadisumarinda@gmail.com

@shedventure

Tolong tinggalkan jejak e-mail kalian ya, saya akan dengan senang hati menulis, segera. Karena saya tahu kemampuan membalas chat saya itu moody parah. Di satu waktu saya bisa bener-bener intens tapi di waktu yang lain saya bisa bener-bener ngilang dan gak bisa diraih.

Soon, Path saya aktif lagi.

 

Kanoman, 4 Juli 2016
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s