Review Buku: Pasung Jiwa Karya Okky Madasari

Lupa tahun, kapan saya pertama mengenal karya-karya Okky—awal saya menyukai sastra Indonesia? Baru belajar, dikenalkan pertama kali oleh Reni Hanifah yang menghadiahi saya dua buku Okky Madasari: Entrok dan 86. Dua karya dengan tema yang sama mengangumkannya. Semenjak itu Okky masuk dalam daftar sastrawan Indonesia yang tulisannya saya sukai. Seperti Pram dan Romo Mangun, saya tahu saya rela membaca semua karya sastrawati yang satu ini.

And here we go, setelah sekian lama tidak membaca buku yang layak dikritisi akhirnya keinginan untuk membaca buku yang memiliki bobot tersebut datang lagi, tepatnya semalam.

Selalu ada alternatif lain ketika kita tidak memiliki modal untuk membeli buku—selain alasan harga buku yang semakin mahal dan tidak rasional untuk buruh dengan gaji pas-pasan seperti saya, sementara otak selalu butuh asupan vitamin, belum lagi alasan-alasan sekunder lain: tahun ini saya menginventasikan uang yang saya miliki untuk lebih banyak plesiran, lebih banyak melihat dunia, lebih banyak melihat orang-orang. Dan saya bersyukur punya teman-teman yang merupakan penimbun buku yang tidak pelit koleksinya saya pinjam, belum lagi akses e-book yang beredar di dunia maya, dan applikasi seperti I-Jak yang membantu sekali orang-orang seperti saya. Meskipun tadinya saya sangat tidak suka dengan buku elektronik, lebih suka buku fisik. Tetapi keadaan memaksa saya untuk melakukan penghematan. Lagi pula kalau dipikir-pikir di dunia digital seperti sekarang, e-book menjadi alternatif yang ramah lingkungan.

Jadi, Pasung Jiwa—buku yang bercerita kepada kita untuk tidak takut menjadi diri kita sendiri, tidak takut dengan pilihan-pilihan kita sendiri. Tokoh utamanya bernama Sasana, nama yang garang, tetapi jiwanya lembut, ia menyukai segala hal yang cantik dan berbau perempuan. Di masa kecil ia merupakan seorang pemain piano beraliran klasik yang handal dan merupakan murid yang cerdas. Piala-piala masa kecilnya berderet. Tetapi ia merasa itu bukan dirinya, ia tidak menjadi dirinya, itu keinginan orang tuanya, ia tidak pernah melakukan pekerjaan dengan hatinya hanya kepalanya. Sampai suatu ketika ia berkenalan dengan musik dangdut dan mulai jatuh hati dengan nada-nada serta goyangannya. Dan itu dapat terwujud ketika ia tinggal jauh dari orang tuanya, saat kuliah di Malang dan bertemu Cak Jek, Sasana mulai menemukan siapa dirinya. Tetapi untuk menjadi dirinya sendiri pun butuh perjuangan yang panjang dan menyakitkan, banyak yang harus ia bayar untuk mendapatkan kebebasan jiwanya yang terpasung: pertama terpasung oleh orang tuanya, kedua terpasung oleh orang-orang di sekelilingnya, ketiga terpasung oleh lingkungannya.

Selain pembebasan jiwa, Okky Madasari juga mengajak kita menyusuri lini masa Indonesia sampai tahun 1998. Ia menghadirkannya melalui pembully-an Sasana saat ia masuk SMA, dipalak oleh kakak kelasnya setiap hari, jadi korban pemukulan, tetapi orang tuanya tidak percaya. Saat semuanya memburuk dan orang tuanya campur tangan, mereka tidak punya kuasa apa-apa karena lawan mereka anak-anak Jenderal yang dilindungi. Anak-anak itu kebal hukum dan Sasana tidak mendapat pembalasannya. Lalu konflik hadir lagi di Malang, saat Sasana dan Cak Jek membela Marsini, anak Cak Man yang menentang kesewenang-wenangan pemilik pabrik, perempuan itu dibunuh dan mereka menuntuk keadilan tetapi berakhir di penjara karena disangka PKI. Mereka tidak hanya dipukuli tetapi juga disodomi oleh tentara sebelum dibebaskan. Cak Jek ke Batam untuk menjadi buruh pabrik dan merasakan kehidupan Marsini, sementara Sasana kembali ke Jakarta lalu malah masuk ke rumah sakit jiwa, tempat ia merasa waras dan akhirnya kabur melarikan diri.

Lalu, pada krisis 1998, Sasana ikut menumbangkan pemerintahan dan merasa jiwanya bebas, ia bisa pulang sebagai Sasa tanpa rasa malu, tetapi bahkan orang-orang tidak mau menerima identitasnya tersebut, bahkan ayahnya. Hanya ibunya yang akhirnya menemani, mengorbankan keluarganya dan menjadikan Sasa sebagai penyanyi dangdut terkenal sampai konsernya di Malang diacak-acak oleh kelompok beralirkan agama, merasa sebagai penegak kebenaran, dibayar oleh polisi untuk menumpas kemaksiatan. Rombongan itu dipimpin Cak Jek, yang tercemplung di sana setelah pelariannya dari Batam. Konflik batin dan kemanusiaan mengusiknya. Sampai akhirnya ia kembali ke identitasnya yang semula menjadi Cak Jek bukan Jaka Wani atau Jaka Baru. Menjadi manusia, mengikuti kata hati dan tubuhnya.

Jakarta, 23 Mei 2016
Advertisements

One thought on “Review Buku: Pasung Jiwa Karya Okky Madasari”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s