Wisata Cirebon

Cirebon: Diteropong Dari Kacamata Yang Sedikit Ganjil

Why we would go away? So that we could come back, so that we could see the place we came from with new eyes and extra colors—inspired by: Terry Pratchett (A Hat Full of Sky).

Saya akan mengajak kalian memaknai perjalanan yang tidak perlu jauh-jauh. Kota ini hanya selemparan batu dari Jakarta. Tidak sedekat Bogor tetapi kurang lebih sama dengan Bandung. Jarak yang sangat efesien untuk menghabiskan libur akhir pekan. Dapat ditempuh menggunakan bus, kereta, dan berkendara dengan mobil pribadi. Atau jika kalian cukup berjiwa petualang dan suka tantangan, perjalanan ke Cirebon bisa dilakukan dengan touring menggunakan sepeda motor sambil mengajak pacar dan teman-teman. Pada intinya, ada banyak cara untuk mencapai Cirebon dan kita bebas untuk memilih cara mana yang paling kita sukai.

Bagi mata orang awam, kota ini tidak akan terlihat menarik, seperti pesona yang dimiliki Bandung, yang membuat kita tidak bosan-bosannya kembali lagi dan lagi. Padahal jika kita jeli, Cirebon adalah kota yang se-sexy Bali dan Jogjakarta. Sejarahnya kaya. Jika Bali lekat dengan tradisi Hindu-nya dan Jogjakarta lekat dengan tradisi Kejawennya, maka keislaman Cirebon tidak perlu dipertanyakan sebagaimana sebutannya yang lain: Kota Para Wali. Kota ini cocok untuk wisata religi dan melakukan ziarah. Jika kamu pernah membaca novel karya Paulo Coelho, kita tidak perlu jauh-jauh ke Santiago untuk memaknai spiritualisme, tidak perlu juga ke Bali, cukup pergi ke Cirebon dengan niat melakukan perjalanan singkat, memaknai kembali kehidupan, melakukan pencarian.

Selain wisata religi dan wisata sejarah, Cirebon juga bisa digunakan untuk wisata budaya. Bahkan dalam bidang budaya kota ini jauh lebih hidup dari Jogjakarta dan hampir setara dengan Bali. Sayang, mata orang awam tidak akan mampu melihatnya. Mata wisatawan tidak akan sabar mengulik-uliknya.

Saya yakin, tidak banyak yang tahu jika Cirebon punya banyak sanggar tari tersebar disetiap sudutnya. Tidak banyak yang tahu bagaimana cara menemukan tempat-tempat ajaib ini. Apalagi untuk menonton dan mengapresiasi pertunjukan yang mereka gelar pada minggu ketiga setiap bulannya. Padahal dari sini kita bisa tahu, Cirebon termasuk kota yang aware dan melakukan aksi nyata untuk melestarikan budaya yang dimilikinya. Budayawan-budayawannya pun saling mengenal satu sama lain dan bahu-membahu dalam melestarikan budaya setempat serta berkolaborasi dalam project-project internal.

Yang disayangkan dari kota ini adalah tidak banyak yang tahu kekayaan yang mereka miliki. Padahal apa yang mereka garap dan uri-uri  sekarang ini merupakan sebuah asset yang bisa diperjual-belikan.

Jakarta, 17 Mei 2016

Featured image via disporbudpar.cirebonkota.go.id & artikel ini ditulis dan didedikasikan untuk Culture Trip Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s