Lukisan Koleksi Bangsa Dalam Pigura Senandung Ibu Pertiwi

Yay, yay, besok 17 Agustus, selamat ulang tahun Indonesia  ku tercinta ^^ banyak doa kupanjatkan untukmu hari ini, nanti, sampai selamanya. Harapanku sendiri hanya sederhana, semoga kamu menjadi bangsa yang unggul dan rakyatmu adalah orang-orang yang mampu memanusiakan manusia. Amin.

Oke, kita flash back ke 17 Agustus jaman saya masih kecil. Bisa dibilang ini hari yang saya tunggu-tunggu selain ulang tahun saya. Bukan karena upacara benderanya, rasa cinta saya ke upacara justru tumbuh setelah saya lulus sekolah dan nggak wajib lagi ikut upacara 17-an. Saya suka 17-an karena pawai karnaval dan selalu ada pentas seni di kampung di mana saya selalu ikut andil bikin acaranya.

Well, bisa dibilang saya seneng ikut lomba 17-an. Sayangnya setelah SMA saya pindah ke kota dan kehilangan momen-momen macam itu. Dan saya yakin banyak orang yang cukup clueless harus mengisi 17-annya dengan kegiatan macam apa.

Mungkin blog saya kali ini bisa jadi inspirasi. Masih ada 3 hari lagi, belum terlambat.

Jadi, beberapa hari lalu saya dapat undangan dari Jadi Madiri untuk datang ke Galeri Nasional yang lekas-lekas saya iya-in.

Alasannya sesimpel saya jenuh dengan pekerjaan saya dan butuh interaksi, ketemu teman-teman lama dan berharap bisa kenalan dengan blogger-blogger kece lain. Tapi apa daya bahkan di tengah-tengah acara pun saya masih harus terima telp dari client. Untungnya, ada 3 orang temen lama yang gantian ngobrol dengan saya, di situ saya merasa senang dan betah.

Fyi, ini pertama kalinya saya ke Galeri Nasional dan ini pertama kalinya juga saya lihat koleksi lukisan asli, pathetic yes?! I know I am.

Saya tahu saya akan menjadi penikmat karya seni, and one day if I have all the money in this world I will collect them all and make them mine #heh oke terdengar sombong, tapi mengingat mimpi masih gratis jadi saya mau melakukannya banyak-banyak.

Intinya adalah kalau kamu nggak se-pathetic saya dan pernah ke Galeri Nasional tapi nggak dateng ke acara Senandung Ibu Petiwi, it will be your biggest lost. Alasannya? Karena nggak setiap hari kalian bisa menikmati lukisan yang menjadi koleksi Istana Negara ini.

Yap, saya masuk ke galeri temporernya dan galeri permenennya Galeri Nasional, dan koleksi istana bisa dibilang the best of the best. Di sana saya bisa menikmati lukisan Affandi, Basuki Abdullah, dan Raden Saleh juga pelukis-pelukis lain yang namanya belum saya kenal dan harus saya intip lagi lewat catatan, I know I’m pathetic but at least I’m honest.

Sebagai seorang amatir saya betul-betul dibuat terpesona.

Tapi pertama-tama sebelum masuk ke cerita biar saya berikan gambaran dulu bagaimana mereka membagi lukisan-lukisan ini ke dalam beberapa tema: Keragaman Alam, Dinamika Keseharian, Tradisi dan Identitas, Mitologi dan Religi. Dan semuanya mesmerizing.

Saat kita masuk (yang mana harus diperiksa dulu dan wajib nitipin kunci & lipstik) kita langsung disambut lukisan tema pertama yang bercerita keragaman alam Indonesia. Yang paling nggak bisa saya lupakan lukisannya Raden Saleh “Harimau Minum” itu detil dan pencahayaannya luar biasa. Saya yakin dia bukan manusia pas membuat ini. Lukisan ini dibuat tahun 1863 dan masih sangat baik dan terawat. Saya penasaran beliau butuh berapa lama untuk melukis ini. Bakatnya betul-betul layak dipuji.

Nah diseksi lukisan ini saya mendengarkan penjelasan guide. Menariknya adalah lukisan karya Basuki Abdullah yang berjudul “Pantai Flores” (1942) ternyata lukisan ini diduplikasi dari lukisan Bung Karno atas seijin pemiliknya. Well, Bung Karno sendiri pengangum Raden Saleh dan saya tahu kenapa, he is talented in that era, I believe I will love him too, because now I’m in love with his painting.

Kita move ke dinamika keseharian yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia (yang mana pelukis jaman sekarang pasti inspirasinya udah lain, udah berbeda). Kalau jaman dulu kita akan disuguhi dengan orang-orang bajak sawah dengan kerbau, orang-orang di pelelangan ikan, orang-orang menggembala domba, kehidupan menjual ayam, tari-tarian tradisional, kalau sekarang?!

Di seksie ini lukisan yang paling menarik adalah karya Lie Man Fong, saya pikir lukisan apa nih nyasar. Dan guide akhirnya jelasin kalau lukisan ini Lukisan Penjual Sate Madura. Mereka nggak pakai gerobak dorong tapi dulu dipanggul (saya kadang masih lhat sih orang jualan sate dipanggul tapi sepertinya itu bukan lagi jadi simbol penjual Sate Madura) tahu kan mereka kayak apa?

Tema ketiga adalah tradisi dan identitas, di sini rata-rata lukisan perempuan semua pakai kebaya rata-rata, cantik-cantik. Yang membuat ganjil adalah di antara lukisan yang sebelumnya diperoleh di era Soekarno ada 2 buah lukisan era Soeharto, mereka adalah penari Kalimantan Timur. Konon dua lukisan itu dibuat untuk mempromosikan wisata Kaltim.

Nah, seksi terakhir ada tiga lukisan yang saya suka karena cantik-cantik. Dan tiga-tiganya lukisannya Basuki Abdullah. Saya suka lukisannya yang berjudul Nyai Roro Kidul, Gatot Kaca dengan Anak-anak Arjuna Pergiwa-Pergiwati, dan terakhir Djika Tuhan Murka. Entah bagaimana tiga lukisan itu berhasil menyihir saya, the best of the best.

Di sini saya belajar jika gambar pun mampu bercerita dan membuat kita abadi.

Mumpung belum 20 Agustus langsung cuss aja ke Galeri Nasional, karena belum tentu tahun depan koleksi-koleksi ini dipajang,

Jakarta, 16 Agustus 2017

Kebiasaan Buruk Travel Blogger Wanna Be

Ini adalah tulisan nggak penting yang bahas masalah yang juga sama nggak pentingnya. Tapi kalau kamu travel blogger mungkin bakal dapat masukan setelah baca ini.

Saya adalah orang yang seneng jalan-jalan, otomatis sering banget cari informasi soal destinasi wisata selanjutnya (yang lagi saya cari tahu sekarang Coron Island, coming soon Phnom Penh & Morocco), anyone yang mau ikut saya berpetualang silahkan kontak aja lewat twitter, tolong abaikan nama dan cuitan saya yang absurd nan random.

Kesulitan saya selama ini pas lagi riset suatu lokasi entah itu di blog atau cuma komentar pendek adalah orang-orang cuma menjelaskan tentang tempat itu indah tapi nggak bahas sampai detil ke biaya, ada apa aja di sana, apa yang akan kita hadapi, waktu tempuh, opsi perjalanan dll.

Well, saya sendiri belum pernah menulis satu blog soal destinasi wisata secara serius, bahkan bisa dibilang tulisan di blog saya di bawah so… so… tapi mungkin dalam waktu dekat saya bakalan nulis soal Maldives dan Bali buat dijadikan contoh supaya setiap orang yang baca cukup merasa puas dan akhirnya mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.

Nah, saya mengharapkan teman-teman yang hobi jalan-jalan sekaligus menulis bisa membagikan pengalaman sampai sedetil-detilnya, supaya orang yang baca blog kita betul-betul memperolah manfaat. Kira-kira seperti itu aja sih 🙂

Jakarta, 7 Agustus 2017

Maldives: Backpacker Atau Open Trip?

(proses  ngumpulin ulang mood buat nulis)

Well, gue sebenernya pengen blabbering soal topik ini tadi pagi jam 8 di twitter, but ya, apa daya kudu siap-siap ke kantor etc, dan terpaksa ceritanya gue tunda. Nah, karena gue pengen masukin habit nulis blog supaya berubah jadi manusia-100%-blogger jadilah ceritanya nggak gue twit tapi gue tulis di sini, dengan harapan tulisan ini nggak lekang oleh waktu dan bisa jadi referensi selama info yang gue kasih masih relevan.

Kenapa Maldives?

Karena gue jadi founder sese-web yang jualan product ini. Jadi anggaplah ini soft selling sambil gue transfer ilmu buat kalian yang pengen banget jalan-jalan ke Maldives tapi budget terbatas.

Maldives itu ‘relatif’ aman, jadi kalau kalian pengen backpacker sendirian atau berdua atau bertiga, it’s okay. Syaratnya adalah kalian cukup punya waktu, karena yang namanya backpacker pasti nyari murah tapi kudu siap menempuh perjalanan yang agak ribet dan memakan waktu.

Penerbangan dari Indonesia ke Maldives selalu tiba malem. Kalian bisa pakai Tiger Air, Air Asia, atau Srilankan Airlines. Kalian bisa pilih dan combine, cari harga yang paling nice.

Kalau kalian ikut open trip, tiket yang dikover cuma 3 juta itu pun dari Kuala Lumpur atau Singapore, jadi kalau ada tambahan biaya bakalan dibebankan lagi, as usual, meskipun banyak yang expect dari Indonesia harganya segitu, meh.

(iya, meh, karena di situ saya sering merasa sedih pas menjelaskan)

Kalau kalian nggak dapet tiket promo, harga normal tiket ke Maldives 3,8jt – 4,8jt dari Jakarta. Kalau dapet promo tiket dari Kuala Lumpur ke Maldives cuma 1,5jt-an. Jadi kalau pengen ke Maldives rajin-rajinlah hunting tiket promo.

Oke, balik lagi ke poin satu kenapa Maldives ‘relatif’ aman? Karena gue pas pertama kali survey ke sana di Kota Male-nya kena scam. Untung cuma keluar uang $10 buat bayar jasa guide yang ngehe.

Jadi untuk pergi ke Pulau Maafushi kalau kita backpacker, dari Bandara kudu naik kapal ke Pulau Male dulu, nah untuk ke sana masih simpel, tiket dibeli di loket bandara dan kapal-kapal cepat juga berlabuh di depannya. Aman. Perjalanan dari Bandara ke Kota Male juga nggak lama. Yang nggak aman adalah pelabuhan yang menanti kita setelahnya, karena di sana banyak scam, so be careful, sebaiknya cari info yang banyak kalau ke sini.

Dari sini kalian bisa lihat Kota Male yang nggak bagus-bagus amat, mulai dari istana presiden, masjid, dll. Di sini nyaris nggak ada street food, dan toko souvenirnya pun meragukan, sebaiknya jangan belanja di sini sih saran gue langsung lanjut aja naik taksi ke pelabuhan di sisi lain Kota Male, di mana kapal ferry tujuan ke Maafushi berlabuh.

Kenapa gue nggak menyarankan kalian belanja di sini? Karena gue gak mau kalian kena scam bahkan pas belanja di toko souvenirnya (kecuali kalau mau belanja makanan di bakery atau apa). Pokoknya jangan bertampang bingung dan hindari tanya ke orang di Kota Male, jauh lebih aman kayak gitu, dan taksi juga ditawar dulu sebelum naik, harganya cuma $3, kalau lebih bye aja cari yang lain. Dan meskipun kalian mau backpacker jangan bodoh dengan memilih jalan kaki meskipun Kota Male itu kecil. Soalnya lumayan juga makan waktunya. Tahu sih ngirit, tapi nggak gitu juga kali. Kapal ferry ke Maafushi cuma dua kali sehari, hari jumat nggak ada jadi ini bahan pertimbangan juga kenapa kalian harus melakukan efisiensi waktu terutama kalau pilih kapal yang jadwalnya siang bukan pagi, dibanding ketinggalan terus terlantar dan harus nginap di Kota Male kan? Mana hotel di sana so… so… dan harganya mahal.

Gak enaknya backpacker ke Maldives cuma di situ sih, kalaupun kalian mau sewa speedboat sendiri harganya mahal. Enaknya pakai jasa open trip pas ke Maldives adalah sampai bandara kalian udah dijemput dan harga paketnya flat kalian berangkat ber-berapa pun. Karena kebanyakan open trip ke Maldives menerima minimal dua orang.

Jadi,

  1. Kalian menghemat waktu karena perjalanan dari Bandara ke Maafushi cuma 45 menit via speedboat
  2. Kalian lebih ngirit karena nggak perlu nginep di Kota Male atau Hulhumale karena nggak ada ferry ke Maafushi pas malem
  3. Terhindar dari scam

Oiya, hotel di Maldives harus udah di book dari Indonesia ya, jangan merepotkan diri book atau nyari di sana.

Nah itu sih tips kalau kalian super low budget traveller, nanti gue kasih lagi tips kenapa lebih baik ikut open trip di tempat gue dari pada pergi sendiri kalau kalian mau ke Maldives tapi nginep di resort-resortnya. Tunggu ya 🙂

Jakarta, 4 Agustus 2017

I Will Always Be Daddy’s Little Girl

Saya pernah membaca sebuah tulisan dan mengamini isinya. Ketika kita masih anak-anak kita percaya ayah kita bisa melakukan dan memberikan apapun ke dalam genggaman tangan kita. Tetapi seiring kita tumbuh dewasa kita menyadari ayah kita hanya manusia biasa dengan begitu banyak kekurangan dan kesulitan, ia bukan superhero atau santa klaus yang setiap saat bisa membantu dan mengabulkan permintaan kita. Tetapi lama sekali saya terjebak dalam tempurung pemikiran anak-anak itu. Bahkan ketika saya belajar melepaskan diri dari belengu pikiran itu dan mulai belajar mandiri, pada saat menemui kesulitan atau jalan buntu saya akan datang pada ayah saya meminta bantuan beliau untuk menyelesaikan masalah-masalah saya. Saya akan menangis dan merenggek seperti Johnny Fontane di hadapan beliau. Karena di mata saya papa akan selalu seperti Don Corleone yang tidak akan membuang saya dan akan selalu mengabulkan permintaan saya.

Tetapi keluarga saya bukan keluarga mafia, kami hanya keluarga kecil biasa dengan sangat sedikit jumlah anggota keluarga sehingga kami hanya memiliki satu sama lain. Kesadaran itulah yang membuat saya menjadi tipe orang yang cenderung family centris. Secara emosional saya terikat dengan anggota keluarga saya. Kesulitan mereka menjadi kesulitan saya. Kesedihan mereka menjadi kesedihan saya. Senyum dan kebahagiaan mereka menjadi senyum dan kebahagiaan saya. Dengan pemikiran seperti ini ketika melihat salah satu dari mereka berselisih, saya akan berada di tengah-tengah agar keluarga saya tetap utuh. Meski luka itu ada saya yakin maaf dibantu dengan kekuatan waktu akan menyembuhkan luka kami perlahan-lahan.

Love you fams, mucho.

Jakarta, 17 Juni 2017

Once You Stop Learning You’re Dying

Kalau ada hal yang saya benci di dunia ini, maka salah satunya adalah “kebodohan yang fanatik” meskipun harus saya sadari, mereka hanya belum belajar, mereka belum memahami, mereka belum tahu. Dan butuh hati serta kebesaran jiwa untuk mengerti alasan-alasan itu: sabar.

Saya menulis ini saat tengah membaca buku Dale Carnegie: How to Win Friends and Influence People. Sebuah pertanyaan menggelitik saya, “apa yang harus kita pelajari setelah kita dewasa?” Jawabannya banyak. Bahkan Albert Einstein mengatakan, “once you stop learning you’re dying.” Hari di mana kita berhenti belajar adalah hari di mana kita mulai berhenti untuk hidup.

Saya melihat banyak orang menganggap pendidikan hanya berasal dari sekolah, dan ketika mereka sudah menuntaskan pendidikan formal maka semuanya selesai begitu saja. Fokus mereka adalah mencari pekerjaan dan membina keluarga, hidup selanjutnya berjalan stagnan seperti itu. Membosankan bukan? Namun berapa banyak orang yang menyadari jika kehidupan yang mereka jalani menjemukan? Lalu berapa persen dari orang-orang tersebut yang berani mengambil resiko dan meninggalkan kemonotonan itu?

Banyak juga orang yang terjebak dengan pemikiran belajar hanya diperoleh dari bangku sekolah. Padahal pendidikan yang sebenarnya justru ada di luar sana. Sekolah hanya menyumbang beberapa persen pengetahuan dengan bonus gelar yang kita butuhkan untuk mencari pekerjaan, tetapi ia tidak memberikan skill kalau kita tidak ulet dan telaten mempelajarinya.

Mengulang pertanyaan yang saya baca di buku Dale Carnegie, berapa banyak lulusan IT, Teknik Mesin, Akuntan, Arsitek, Ahli Biologi, dll, yang betul-betul menguasai bidang pekerjaan yang pernah mereka pelajari selama bersekolah? Hanya segelintir yang menekuni bidang yang mereka pelajari, mayoritas orang hanya memiliki keahlian biasa-biasa saja. Bukan karena mereka bodoh, tetapi karena malas untuk belajar dan mengembangkan diri. Dan bagi saya orang-orang tersebut adalah orang-orang yang kalah, orang-orang yang sudah mati. Yang lebih menyedihkan lagi adalah melihat teman-teman saya berada di atas tumpukan mayat orang-orang yang kalah tersebut. Padahal kita masih muda, kepala tiga pun belum terlampaui, tetapi banyak dari kita berhenti memberi nutrisi kepada otak. Saya harap melalui tulisan ini teman-teman mau meninggalkan zona nyaman dan kembali semangat belajar lagi, karena tidak ada kata terlambat menjadi seorang ahli.

Jakarta, 2 Juni 2017

 

We All Big Bad Wolf

Pernahkah kamu menganalogikan dirimu sebagai seekor serigala yang memiliki behaviour ‘buruk’ dalam artian kamu adalah jenis yang sekalinya menyerang, sekalinya berburu, kamu menjadi tidak terkendali, tidak tertakhlukan, oleh karena itu kamu akan selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan, apa yang menjadi mangsamu?

Nah, analogi ini akan menjadi sebuah kebenaran ketika kamu mengunjungi sebuah acara bazar yang untuk kedua kalinya diadakan di ICE BSD Tangerang, Big Bad Wolf 2017! Yaitu ajang obral buku yang menjadi incaran para serigala-serigala pencinta buku karena kali ini mereka tidak lagi menjadi cacing atau kutu tetapi serigala, oleh karena itu tentunya mereka-mereka ini akan sangat berbahaya. Catat, akan sangat berbahaya. Dan ICE BSD Tangerang ibarat padang sabana untuk mencari mangsa, jadi persiapan kita ke sana pun haruslah sangat optimal agar tidak kalah saing dengan serigala-serigala lainnya meskipun yah, barang buruan di sana sangatlah banyak dan gemuk-gemuk. Bayangkan saja kalau buku-buku impor yang harganya di atas 200 ribu bisa kita dapatkan seharga 70-an ribu, siapa yang biasanya jinak tidak tiba-tiba saja menjadi liar?

Acara yang pertama kali dipopulerkan di Kuala Lumpur ini, yang hanya berawal dari obral buku biasa sekarang menjadi primadona yang ditunggu-tunggu oleh para serigala pencinta buku karena Big Bad Wolf mampu menawarkan berbagai macam koleksi buku yang didiskon dari 60%-80%, tidak tanggung-tanggung ya?

Menariknya lagi, obral buku yang maha besar ini diadakan selama 280 jam non-stop dari tanggal 21 April hingga 2 Mei 2017. Luar biasa sekali bukan? Di sini para serigala pencinta buku bebas mencari mangsanya, memilah sekaligus memilih.

Dan lagi, dibandingkan acara yang sama di tempat yang sama sebelumnya, Big Bad Wolf memberikan kemudahan bagi para serigala, yaitu tempat penitipan buku-buku buruan mereka. Jadi di sini kita tidak perlu capai-capai menyeret koper atau keranjang belanjaan terus-terusan. Makin mudah bukan?

Kemudahan yang lain lagi ditawarkan bagi para serigala yang menjadi nasabah dari Bank Mandiri, di sini mereka lebih dimanjakan dan dispesialkan karena tidak perlu lagi membawa-bawa celengan ayam jago atau celengan babi, atau bahkan membuat dompet menjadi tebal dan tidak bisa ditutup karena isinya berlembar-lembar uang yang banyak. Nasabah Bank Mandiri cukup membawa kartu debet mereka untuk bertransaksi selama jalannya acara Big Bad Wolf.

Serigala sejati, tentu kamu tidak akan melewatkan acara ini bukan? Sebab  di sini dijamin kamu akan kenyang mendapatkan hasil penjarahan yang banyak. Selamat berbelanja buku! Jangan lupa update dan pamerkan ya buku-buku yang kamu beli.

“Isle of Hope” Is Coming Back

Al kisah, saat saya pertama kali menciptakan blog ini saya ingin menjadikan diri saya seorang active blogger di mana setiap post yang saya buat bisa memberikan keuntungan tanpa merusak kualitas tulisan—yap, inginnya sih begitu, sayangnya kenyataannya tidak demikian. Shedventure memang setiap bulan menambah uang jajan bagi saya, tetapi saya enggan jika harus membaca ulang tulisan-tulisan saya yang berbayar. Bisa dibilang tulisan-tulisan tersebut merusak karakter dan konsep blog yang dengan susah payah saya lahirkan. Ironisnya lagi, saya lebih mencintai uang. Hanya saja habit tersebut pelan-pelan ingin saya ubah demi menciptakan personal branding.

Branding yang paling melekat dalam diri saya bisa jadi adalah saya seorang “RP-er IndoHogwarts”.  Saya mencitai Harry Potter.  Dari situ orang-orang tahu saya memiliki hobi menulis dan menghasilkan sedikit uang dari sana. Meskipun sayangnya selama tujuh tahun karir saya belajar menulis di IndoHogwarts, satu karya pun belum saya telurkan. Too bad.

Tetapi 2017 ini saya menasbihkan diri untuk membuat satu karya. Apalagi teman-teman seperti @lvolans, @srz_bznz, @Vy_Wardlaw, @______el, @_cordelia13 meniupkan lagi nyawa Isle of Hope yang sudah begitu lama mati suri. Di mana kami punya berbagai proyek untuk direalisasikan. Mulai dari mengumpulkan dana untuk membeli Al Quran yang diinisiasi Amanda Shastri atau @_______el, hingga penggalangan dana ke Panti Asuhan Bhakti Luhur.

Project lain yang tengah berjalan adalah Self Publishing Book yang bertemakan A Year Without Summer” sesuai dengan time line New IndoHogwarts sekarang  yaitu tahun 1815, tepat ketika Gunung Tambora meletus dan merusak keseimbangan alam dunia. Saya sendiri hanya Tim Hore, yang lebih senang menjadi Marketer buku tersebut nantinya, atau Mamikalau kata Dayinta. That’s  what I do.

Selain Self Publishing Book, untuk merayakan ulang tahun IndoHogwarts ke-10, kami ingin membuat tahun ini lebih berbeda tanpa peduli meskipun hal tersebut sedikit terkesan ambisius. Kami ingin membuat Theatre Musical dengan cerita yang diambil dari buku The Tales of Beedle the Bard” yang akan ditampilkan 9 Desember 2017 nanti.

Cerita apa nanti yang akan kami ambil, kami sendiri belum tahu karena seleksi naskah sedang dilakukan. Jadi kalau kamu ingin berkontribusi, kamu bisa mengikuti lomba yang kami adakan.

Harapan saya sendiri Isle of Hope terus berkegiatan seperti ini, tidak hanya berhenti di acara akhir tahun nanti. Bersama-sama, di tengah kesibukan kita masing-masing, kita tetap mengisisasi untuk membuat movement-movement seperti ini. Yang tentunya kedepannya tidak hanya berdampak untuk kalangan RP-er saja tetapi bisa menjangkau masyarakat luas.

Agar pembaca tidak kebingungan karena topik yang melebar, coret-coret ini saya hentikan di sini. Terima kasih sudah menyimak ^^

 

Kemang, 16 April 2017