Game Review: King of Avalon

Rating: 2.5/10
Jenis: Mobile Game

Btw ini review a la a la tech blogger. Mengingat saya sebenernya bukan tech addict, game addict, dan sejenisnya. Blog saya gado-gado. Saya nulis apa yang saat itu pengen saya tulis (meskipun banyak materi blog yang baru saya tulis separo dan nggak pernah selesai, cuma jadi draft yang nggak pernah publish—iya, minta doanya aja semoga tulisan ini selesai meskipun isinya sangat subjektif dan amatir, maafkeun).

Kalau kata pacar saya ini game bodoh yang dalam hati saya amini.

Terus kenapa masih dimainin, say?

Sesimpel karena penasaran, meskipun saya tahu nggak sampai seminggu game ini pasti saya un-install dari hp seperti nasib banyak game lain.

Terus dari mana saya kenal game ini?

Instagram!

Entah gimana saya jadi target market game ini (jangan-jangan karena saya bodoh!) Iklannya selalu muncul di feed saya, dan akhirnya saya klik dan install.

Game ini bodoh ya karena gitu-gitu aja sih mainnya, nyaris nggak ada tantangannya. Intinya ‘kita harus memperkuat kota, ngelatih tentara, perang’

Ini hari ketiga saya main, udah level tujuh sekarang.

(btw kalau udah di atas level 4 game-nya bisa disambi-sambi ya, nggak kayak Mobile Legend yang menyita waktu dan fokus. Ini game receh cuma main klik-klik aja, mana nggak ada narasi cerita yang bisa diikutin, so yah orang-orang seperti saya pasti langsung bosan. Bahkan sebenernya saya nggak tahu apa yang harus saya achieve dari game ini kecuali ngikutin quest. Misalnya aja naikin level bangunan, produksi pangan, nambah jumlah pasukan, bantu allies, hunting monster, nyerang kota pemain lain, udah gitu doang)

B O S A N

So, tips dari saya: nggak usah install game ini!

Kalau kalian udah terlanjur install pastikan kalian join salah satu allies buat mempercepat pembangunan dan riset. Soalnya makin tinggi levelnya makin makan waktu untuk upgrade bangunan dll. Dan jangan lupa googling tips-tips buat beginner.

Terus perbanyak bangun farm-nya dibandingkan sawmill ya… karena yang saya sadari makanan agak boros penggunaannya dibanding kayu.

Jangan lupa juga perkuat pertahanan kalau-kalau tiba-tiba diserang musuh. Kemarin pas saya anggurin, saya yang masih amatir ini diserang musuh 2x, banyak tentara saya luka-luka terpaksa harus diobati dan sisanya tewas.

Nah, biasanya setelah kita diserang gini kita harus perbaiki benteng lagi selain ngerawat tentara yang luka-luka.

Well, circle permainannya pokoknya cuma seperti itu.

Kalau ada saran game lain yang bisa saya mainin bisa approach saya di IG!

Yah, per-hari ini saya paling sering nongol di media sosial satu itu, nggak tahu ya kalau besok. Heh heh.

Jakarta, 28 Maret 2018


Btw pas saya post blog ini udah banyak yang berubah padahal belum 24 jam berlalu, lihat header blog ini!
NEXT kalau saya mood nge-review game lagi saya akan menulis soal Mobile Legend, masalahnya adalah setelah ini saya mau review produk kecantikannya Natasha #yha
Advertisements

Sadar Nggak Sih Kalian, Kalau Banyak Banget Buku Bisnis Yang Nggak Mutu?

Sedang di rumah, tidak bisa tidur, jam di telepon pintar saya menunjukkan waktu pukul setengah empat pagi, luar biasa.

Mungkin alasannya karena sore tadi saya meninggalkan pekerjaan saya yang baru setengah rampung dan memutuskan pulang ke rumah jadi saya ‘kepikiran’, bisa jadi… atau karena pesan-pesan menumpuk yang berhubungan dengan pekerjaan yang saya abaikan karena sudah malam dan karena saya ada di rumah.

Biasanya ketika saya di rumah, saya cenderung mengisolasi diri dari pekerjaan dan menghabiskan waktu untuk mengobrol dan membaca buku.

Semenjak bekerja, rumah tidak membuat saya betah. Tetapi sebagai seorang anak, saya merasa memiliki obligasi untuk pulang. Tetapi lain kali mungkin saya baru akan pulang setelah pekerjaan saya selesai, meskipun itu sudah sangat sangat sangat sangat larut malam.

Saya memutuskan untuk membunuh waktu malam ini dengan membaca beberapa lembar Sapiens, menghapus buku-buku berlabel ready-to-read di aplikasi Goodreads, dan sekarang menulis. Mengingat saya sedang belajar untuk tidak mengabaikan hasrat dan panggilan untuk menulis akhir-akhir ini, karena saya tahu ketika keinginan itu saya abaikan dan ide itu saya masukkan ke dalam idea box, pada akhirnya ide-ide tersebut hanya sekedar ide manis yang tidak pernah rampung menjadi satu tulisan yang utuh.

Lalu apa yang ingin saya tulis?

Sisa-sisa buku yang tidak rampung saya baca di tahun 2017 lalu dan menjadi gunungan di rak buku virtual saya memberi gambaran kepada saya betapa jeleknya buku-buku bisnis Indonesia yang ditulis oleh penulis Indonesia. Bukan saya menghina atau tidak mengapresiasi, tetapi memang seperti itu kenyataannya: kualitas buku yang kamu tulis jelek mas, mbak, yok piye?

Jika keinginan saya bukan wacana, fakta itu detik ini sedang menyambar saya untuk menuliskan blog-blog mengenai perjalanan bisnis saya dengan harapan orang-orang bisa mengaksesnya: karena tersedih 2018, WordPress saya masih versi gratisan yang belum bisa ditanami SEO, jadi saya tidak tahu bagaimana orang-orang bisa menemukan tulisan ini.

Kembali lagi ke 2017, bagi saya itu adalah tahun terbaik karena setelah sekian lama saya menemukan tujuan hidup saya, meskipun saya masih tidak tahu bagaimana pertama-tama harus memulainya, apa yang harus saya lakukan, dan bagaimana caranya mengejar ketinggalan pengetahuan dari partner bisnis saya yang juga adalah pacar saya. Karena gengsi dong kalau lebih bodoh.

Saya tidak pernah berbisnis, saya tidak pernah berjualan (kalau jualan gorengan tidak dihitung, ya), saya bukan anak orang kaya, jadi dari mana saya harus memulai?

By the way, sebelum saya memulai apa yang saya kerjakan sekarang, saya selama hampir 3 bulan mengalami depresi sampai tahap dalam 3 bulan itu hanya keluar rumah tiga kali (saat kawan baik saya menikah, saat mama saya ulang tahun, dan saat saya ulang tahun). Selama tiga bulan tersebut yang saya lakukan hanya memeluk diri saya dan tidur, turun dari atas ranjang hanya untuk makan-mandi-kencing-dan-berak.

Setelah fase itu berakhir dan saya memutuskan sudah cukup depresinya, saya keluar dari sarang saya tersebut dan mencoba bersosialisasi lagi. Di situ saya bertemu pacar saya. Tentu, kami tidak ujug-ujug bertemu dan mencetuskan bisnis ini.

Saat itu saya masih pengangguran (sampai sekarang pun masih) dan pacar saya punya 2 perusahaan untuk dia kelola. Meskipun pada saat itu kami hendak mengeksekusi satu project bersama, kami berdua terobsesi pada ‘steak pinggir jalan’. Sampai pada akhirnya karena satu dan lain hal yang akan saya jelaskan di tulisan lain, pacar saya memutuskan untuk walk out dari salah satu perusahaannya dan saya tawari untuk project-hidup-mati-masa-depan-saya yang kami kerjakan sekarang.

Kami memutuskan untuk akan membuat satu perusahaan yang bergerak di dunia traveling, problemnya adalah: saya tidak tahu bagaimana memulai sebuah bisnis atau start up. Bahkan apa itu start up saja saya buta.

Menyedihkan?

Iya, memang menyedihkan.

Lebih menyedihkan lagi buku-buku yang 2017 lalu saya baca tidak banyak membantu saya untuk memulai.

Buku bagus yang pertama saya baca adalah E-Myth Revisited, tetapi itu tidak akan membantu untuk bisnis traveling saya, sangat cocok untuk diterapkan di bisnis steak pinggir jalan kami. Tetapi buku bagus akan tetap bagus.

Buku kedua yang memukau saya adalah Sprint, yang lain adalah Biografi Steve Jobs, Elon Musk, dan buku yang mengulas perjalanan Alibaba dan Jack Ma, lalu buku karangan Jordan Belfort.

Padahal saya sudah membaca banyak sekali buku mulai dari sosial media secara general, bahkan yang spesifik seperti memulai bisnis dengan Line, buku mengenai start up, buku bisnis konvensional, biografi si ini dan si itu yang tidak selesai saking jeleknya tulisannya, buku mengenai sales dan marketing, buku tentang copy writing, buku yang membahas branding etc, semuanya saya coba lahap dan baca cepat saking tidak bermutunya, berharap saya akan mendapatkan ilmu dan pencerahan di sana alih-alih cuma memberengut dan misuh karena waktu saya terbuang percuma.

Karena alasan di atas saya pikir memulai menulis tentang pengalaman saya sepertinya akan bermanfaat untuk orang lain, terutama hal-hal teknikal yang berguna dan bisa diterapkan, untuk orang-orang yang sedang memulai bisnis seperti saya. Meskipun saya yakin setiap bisnis membutuhkan pendekatan yang berbeda-beda, tidak bisa dipukul rata.

Jakarta, 7 Februari 2018

Behind Every Successful Women Is Herself

During his work of research, the author discovered, from the analysis of the life-work and achievements of hundreds of men of outstanding accomplishment, that there was the influence of a woman’s love back of nearly every one of them.

The emotion of love, in the human heart and brain, creates a favourable field of magnetic attraction, which causes an influx of the higher and finer vibrations which are afloat in the ether — Think and Grow Rich

I am no fans of feminism and I am not a lesbian too. But in my real life and when I’m drowning in literature, I always in love with powerful women.

Of course, I want to be a powerful woman myself, today, right now, tomorrow, forever.

It’s all about mindset, including the paragraph I quoted from Think and Grow Rich. If men thinks for every their great achievements there was the influence of a woman’s love, so be it.

That book talk about desire, dream, and determination. And my question is simple, what about women desire, dream, determination and their outstanding achievement? Where is it coming from? Is it coming from men’s love or their own strength?

2018: IT’S ON

Sudah ganti hari, tetapi saya masih mau achieve target tanggal 1 Januari 2018, tinggal 1 task lagi.

Ada satu quote yang tiba-tiba terngiang-ngiang

If you think adventure is dangerous, try routine it’s lethal — Paulo Coelho

Dulu saya akan setuju dengan quote di atas, tetapi 2018 ini, ketika saya menerapkan target-target harian, mingguan, bulanan, tahunan, rutinitas saya ternyata tidak semembosankan itu karena setiap hari saya mengerjakan hal-hal baru dan menyelesaikan tantangan-tantangan baru.

Saya akan bangun pagi, bengong beberapa menit sambil cek WhatsApp dari klien sebelum turun dari atas kasur untuk streching sebentar, meditasi sepuluh menit supaya bisa fokus dan mulai bikin list prioritas apa yang ingin saya kerjakan seharian itu secara spesifik. Dilanjut baca buku 50 menit (tetapi setelah dijalani bisa lebih sampai 75 menit), terus mandi, masak, beres-beres dan baru mulai kerja. Poin terakhir tantangan terberat. Biasanya kegiatan terakhir diinterupsi makan siang sehabis itu leyeh-leyeh tidur siang, bangun, mandi sore, makan malam, dan menuntaskan pekerjaan yang belum selesai. Baru setelah itu menulis. Jadi saya membuka dan menutup satu hari dengan hal-hal menyenangkan.

Well, saya sebenarnya ingin membagi resolusi 2018 ke beberapa segmen: #365dayswriting dan #365daysblogging apa bedanya??? Apa yang saya tulis #365dayswriting lebih ke eksplorasi sedangkan #365daysblogging adalah bentuk komitmen saya untuk aktif menulis blog agar bisa mendatangkan uang. Saya juga punya resolusi lain seperti #365daysinstagram #365daysreadingbook #365dayswriting

Dan sebenarnya resolusi saya bukan cuma yang saya sebutkan di atas, banyak target-target lain yang secara rahasia saya tulis and keep in mind I will achive it before the end of 2018.

Kalau 2017 itu starting saya, maka 2018 ini bisa dibilang tahun saya untuk mencapai berbagai target kehidupan secara lebih riil dan melakukan self improvement secara lebih masif untuk mengejar banyak sekali ketinggalan 25 tahun ini.

Lalu Apa Yang Ingin Saya Terapkan?

80% self improvement dan 20% bekerja, lalu juga menerapkan aturan 10,000 experiment a la Jeff Bezoz & Mark Zuckerberg.

Bagaimana Saya Melakukannya?

Saya menggunakan beberapa toolkit dan mengimplementasikan beberapa tips terutama dalam melakukan time management.

Yap, saya punya beberapa toolkit andalan dan lebih dari satu supaya saya bisa menggunakan waktu saya dengan optimal.

Pertama saya menerapkan Eisenhower Method, toolkit yang saya sukai Ike – To Do List, Task List di mana saya memisahkan general task saya ke dalam 4 kuadran yang terbagi atas: focus (important/urgent) apa yang harus saya selesaikan hari itu tanpa boleh ditunda, goals (important/non-urgent) adalah general activity yang saya lakukan dari bagun tidur sampai tidur lagi, fit in (un-important urgent) seharusnya di sini task-task yang bisa saya delegasikan ke orang lain menurut teori Eisenhower tetapi saya mengisinya dengan hal-hal apa yang ingin saya capai secara spesifik selama sehari, dua hari, seminggu, sampai satu bulan, tetapi tidak terburu-buru harus hari itu juga saya kerjakan, yang terakhir backburner (un-important non-urgent) adalah general achievement saya selama 2018.

Nah, dari to do list kuadran kedua saya menggunakan toolkit Asana untuk mem-breakdown secara spesifik task-task yang harus saya kerjakan hari itu—meskipun task-task tersebut lebih banyak berkaitan dengan pekerjaan.

Tentunya dibutuhkan disiplin yang tinggi supaya kita bisa menyelesaikan semua task tersebut apalagi waktu yang kita miliki hanya 24/7 tidak lebih.

Dan karena saya adalah tipe orang yang procrast lebih suka tidur dan bermalas-malasan jadi saya harus berusaha sangat keras untuk menyemangati diri supaya selalu produktif.

Metode yang sedang saya terapkan adalah Pomodoro Technique yaitu 25 menit fokus bekerja 5 menit istirahat, ulang lagi 25 menit fokus bekerja 5 menit istirahat, ulang lagi 25 menit bekerja 5 menit istirahat, dan terakhir 25 menit bekerja 5 menit istirahat, baru setelah itu melakukan long break 15-30 menit istirahat, lalu ulangi lagi dari awal. Tetapi saya biasanya jarang melakukan short break sampai pekerjaan saya selesai, kadang bahkan lebih dari 4 kali 25 menit.

Toolkit yang paling saya sukai untuk menerapkan ini Tide.

Well, ini masih hari pertama, masih ada 364 hari ke depan dan saya tahu saya bukan orang yang sempurna dalam menerapkan disiplin. Tetapi ketika di satu titik nanti saya malas, setelah itu saya akan memacu diri saya lagi untuk menerapkan disiplin di atas atau bahkan mencoba metode baru.

Semoga resolusi 2018 ini tercapai semua ^^

Jakarta, 2 Januari 2018

Hei, Penggemar Star Wars! Sekarang Ada E-Money Mandiri Versi The Last Jedi Lho dan Saya Sudah Punya, Kamu Kapan?

Saya punya beberapa teman dekat dan pacar yang kebetulan penggemar berat film Star Wars—saya sendiri boro-boro fans karbitan, bisa dibilang pengetahuan saya soal Star wars itu minus sekian digit. Tetapi entah kenapa saya lebih beruntung dari mereka hari itu.

(maaf, tidak bisa tidak sombong!)

Hobi saya menulis membawa saya ke event Mandiri dan Disney tanggal 13 Desember 2017 lalu. Awalnya saya iseng datang hanya dengan niat bersosialisasi setelah sekian abad mengurung diri dalam gua bernama tumpukan-pekerjaan-yang-tidak-pernah-selesai.

Betapa terkejutnya saya saat datang ke The Good Diner dan disambut dengan orang-orang berkostum Star Wars—whoa. Saya merasa saat itu juga harus pamer terutama pada pacar saya yang di hari yang sama punya jadwal nobar Star Wars dengan teman-temannya tanpa mengajak saya, katanya “kamu bukan fans Star Wars nggak usah ikut!” Jahat ya…

Langsung, bersama teman-teman jurnalis dan blogger lain saya mengantri di booth foto yang sudah disiapkan dengan amat sangat niat oleh Mandiri. Saya mengambil light saber dan berpose bersama cosplayer Star Wars yang ada di situ dengan tekad membuat pacar saya super duper iri dan menangis.

Setelah puas foto-foto diselingi mengobrol dengan teman-teman, mendengarkan live music, makan dan minum, acara inti pun dimulai.

Ternyata hari itu Mandiri dan Disney Indonesia bekerja sama menerbitkan Mandiri E-Money dengan tema Star Wars The Last Jedi. Meskipun saya bukan penggemar berat Star Wars seperti Pak Mochtar Sarman, Disney Consumer Products Director, yang hari itu memakai kemeja biru dengan motif yoda, saya pun larut dalam euphoria Mandiri E-Money dan Star Wars, apalagi melihat kaos-kaosnya, tiba-tiba ingin ikut mengoleksi. Dalam hati, duh lucunya, mau…

Tapi lalu saya ingat saya harus memangkas latte factor dan menghindari membeli barang-barang yang tidak saya butuhkan.

Dari press release yang saya terima, peluncuran Mandiri E-Money  bertema Star Wars The Last Jedi ini adalah bentuk inovasi dari Bank Mandiri untuk memperkuat layanan digital banking. Langkah yang cerdas menurut saya, mengingat di era sekarang transaksi sudah beralih menjadi cashless, karena anak jaman now sudah tidak suka membawa-bawa uang cash.

Dan Mandiri menjawab kebutuhan kita tersebut mulai dari memperluas acceptance e-money, menyediakan sarana isi ulang, meningkatkan produksi kartu, mempermudah akses pembelian kartu bagi customer. hingga menyediakan e-money dengan desain-desain yang menarik contohnya yang sekarang ini dilakukan Bank Mandiri dengan Disney Indonesia.

Informasi tambahan supaya kita menjadi netizen yang cerdas, berdasarkan data yang dimiliki Mandiri terhitung sampai saat ini ada lebih dari 62.000 merchant yang dapat menerima kartu Mandiri E-Money, kita juga bisa melakukan top up di lebih dari 60,000 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia.

Mandiri E-Money juga sudah bisa kita gunakan untuk membayar tol, parkir, Transjakarta, Transjogja, Batik Solo Trans), KRL, merchant rekan, SPBU, dll.

Dan tentunya inovasi yang memudahkan kita tersebut tidak hanya sampai di sini, jadi tidak sabar menunggu kejutan-kejutan apa lagi yang disiapkan Bank Mandiri untuk menjawab tantangan globalisasi di mana masyarakat kita cepat sekali berubah.

The Power of Waking-Up Early

Good morning sunshine,

Bahagia itu sesederhana ketika kamu bisa bangun pagi. Mengingat terakhir kali saya punya jam tubuh seperti sekarang hari ini (bisa bangun sebelum jam 4) justru dulu waktu masih balita.

I will always remember that happy memories, jam segini orang-orang mulai siap-siap ke pasar, ke sawah, ibadah, bahkan jogging dan saya yang masih kecil nggak mau ketinggalan, ikut jalan-jalan padahal di luar masih gelap, tetapi tenang dan udaranya sejuk.

Saya bahkan masih ingat orang-orang yang saya temui dan rumor-rumor mistis yang beredar.

(mendadak jadi homesick kan)

Kenapa saya yang dulu super-sangat-anti bangun pagi mau bangun pagi? Karena di usia saya sekarang saya menyadari waktu sangat berharga, kita sama-sama cuma punya 24/7 setiap harinya, dan saya ingin memaksimalkan itu.

Pagi ini saya udah meditasi sambil dengerin musik klasik, rapiin daily task dan assign task ke anak-anak, terus sekarang nulis blog. Saya masih punya deretan task sampai nanti jam 1 siang, berhubung hari ini ada janji ketemu sama papa dan jadwal pulang ke rumah sebentar, malemnya balik kosan lagi dan besoknya mengulang habit yang sama.

I love what I do, tho, head into heels

Next blog mungkin saya akan bahas mengenai meditasi.

Menyongsong Ekonomi Baru Indonesia Di Era Digital

(ditulis di detik-detik terakhir menjelang deadline, semoga tulisannya tetap readable dan berisi)

Well, saya lupa sejak kapan mulai menarik diri dari acara-acara yang pro dan kontra pemerintah karena merasa lelah dengan perdebatannya. Tetapi untuk undangan tertentu memang susah untuk saya tolak karena terlalu tempting—apalagi dengan keynote speaker Presiden Joko Widodo. Dari jaman beliau menjabat gubernur Jakarta sampai beliau dilantik menjadi presiden saya belum pernah sekali pun menyempatkan diri datang ke acara yang ada beliaunya. Saya pikir kali ini adalah momen yang tepat karena saya sudah peduli setan dengan ingar-bingarnya politik Indonesia dan fokus berbisnis, menggarap start up saya yang bergerak dibidang IT dan pariwisata. Karena menurut saya dibanding saya berbicara sampai berbusa-busa tentang politik lebih baik saya berkontribusi terhadap negara dengan cara yang nyata. Toh tujuan saya bukan jadi terkenal tetapi bagaimana saya ke depan bisa ‘menjual Indonesia’ melalui aset pariwisatanya ke dunia. Cita-cita saya adalah saya ingin dunia mengenal keindahan Indonesia melalui pariwisata. Dan saya tahu butuh bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk melakukan ini tetapi saya sudah berkomitmen dan memulainya, meskipun lambat saya melangkah di jalan yang benar.

Namun di kesempatan kali ini saya bukan di undang sebagai seorang inisiator start up tetapi masih sebagai aktivis sosial media yang memang sejak dulu pro dengan Pak Jokowi. Dikalangan Mister Jokowi’s Fanboys dan para buzzer, saya bukanlah orang yang terkenal. Bahkan mungkin rekan-rekan tidak ada yang mengenal saya. Hanya saja tampaknya saya belum dilupakan dan masih diikut sertakan untuk beberapa acara seperti event kali ini, terima kasih lho ya.

Saya adalah salah satu anak muda di luar sana yang percaya dengan kepemimpinan Pak Jokowi Ahok bahwa beliau akan membawa perubahan dan itulah yang saya tunggu-tunggu dan sejauh ini beliau belum mengecewakan karena terbukti saya masih berdiri di dalam kerumunan barisan pendukung beliau.

Oiya alasan kedua saya selain keynote speaker kali ini adalah Pak Jokowi karena tentunya tema yang kali ini diusung: Ekonomi Baru Di Era Digital di mana di sana saya menjadi salah satu pelakunya. Beberapa pelaku start up yang menjadi pioneer di undang sebagai speaker, belum lagi para pelaku bisnis online lainnya yang sukses juga dihadirkan.

Sebagai seorang yang memulai start up tentunya saya mengerti beberapa kesulitan teman-teman yang sudah lebih dulu terjun, apa saja peta permasalahan yang kami hadapi di lapangan. Seperti apa yang dikatakan Nadiem Makarim bahwa kita membutuhkan sumber daya manusia yang handal jika ingin maju, tetapi sumber daya tersebut tidak akan bisa kita peroleh dengan maksimal jika kita tidak mempersiapkannya sejak dini—dan disitulah peran pemerintah: untuk mempersiapkannya. Tetapi yang ada di dalam kepala saya, kenapa kita harus menunggu pemerintah yang memiliki biroksi njlimet itu untuk melakukan sesuatu terlebih dahulu?? Karena saya yakin ketika kita berubah, pemerintahpun akan ikut berubah. Saya jadi ingat kata-kata Gaery Undarsa di salah satu acara Fintech, persiapkan sistem itu untuk pemerintah (seperti yang sudah dia lakukan untuk membantu PT. KAI dan Pak Jonan). Dan itulah yang saya lakukan bersama tim saya sekarang, ketika sistem ini jadi itu akan saya jadikan kejutan.

Kembali lagi pada apa yang dikatakan Nadiem Makarim bahwa kita saat ini kekurangan sumber daya manusia.

(by the way, akhirnya saya sudah memutuskan tidak meluluskan D3 saya di bidang pajak, tetapi untungnya semua ilmunya sudah saya serap dan ternyata tidak sia-sia saat saya memiliki perusahaan sendiri)

Dari kegagalan saya di atas, saya mempelajari jika kurikulum kita baik itu di universitas ataupun sekolah sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan pasar di luar sana. Saya mewawancarai calon-calon intern baru di start up saya mulai dari universitas negeri yang kondang sampai swasta yang bahkan namanya saya tidak kenal, antara ekspektasi saya dengan realita berbeda jauh. Di sini saya merasa sedih, berapa puluh ribu lagi fresh graduate tanpa skill yang harus kita luluskan dan mereka tentunya kalah dalam bursa pencarian kerja untuk mendapatkan posisi yang sesuai dengan kerja keras mereka selama duduk di bangku pendidikan.

Pertama, mereka akan dihargai murah. Kedua, mereka hanya akan melakukan pekerjaan administrasi yang remeh dengan gelar dan pendidikan mereka yang tinggi, apa itu tidak sayang? Apakah itu sepadan? Karena saya yakin agent of change sendiri pun harus kita persiapkan dan ciptakan, tidak muncul begitu saja dari ketiadaan, mereka harus diarahkan dan didampingi untuk memiliki motivasi dan visi-misi yang besar. Dan kita ingin anak-anak Indonesia ber-jiwa seperti itu seluruhnya. Bermental petarung, pemenang, bukan orang yang pasrah dengan kehidupan dan menghalalkan segala cara bahkan jika itu harus curang.

Ketiga, tanpa skill mereka sulit mendapatkan pekerjaan dan otomatis ada dalam daftar pengangguran. Keempat, perusahaan adalah badan yang realistis. Uang kami paling banyak keluar untuk membayar karyawan dan tentunya kami ingin orang yang kompeten. Kami bukan lah badan amal yang merelakan uang kami terbuang sia-sia. Kami ingin hasil, dan jika calon-calon tenaga kerja Indonesia tidak memiliki kompetensi tersebut untuk apa kami membuang uang kami untuk mereka? Karena karyawan bagi kami adalah investasi. Kami ingin proses perusahaan kami berjalan cepat bahkan jika kami harus meng-hire tenaga kerja dari luar akan kami lakukan, belum lagi mereka mau dibayar lebih murah—dan realitas di lapangan, itulah yang terjadi di dunia start up, banyak start up lebih memilih developer luar negeri karena hasil kerja mereka lebih baik dan harga mereka lebih murah. Apalagi bagi pelaku-pelaku start up kecil seperti kami, IT-IT kompeten sudah diborong oleh start up besar dan dengan iming-iming gaji yang sepadan, kami hanya memperoleh sisa-sisanya saja, IT kelas dua dan kelas tiga. Padahal kami ingin melihat perusahaan tumbuh dengan cepat agar visi-misi kami segera tercapai. Tetapi antara rasa nasionalisme dan realitas terkadang harus berbenturan.

Hal-hal seperti ini lah yang harus diselesaikan pemerintah dan disadari oleh anak-anak muda jaman sekarang. Mereka harus mau belajar lebih gigih, harus selalu ingin tahu, dan jangan hanya menerima apa yang disodorkan bangku sekolah di bawah hidung mereka saja. Karena hutan rimba yang sebenarnya ada di luar sana. Hidup ini tidak mudah bagi kita dan ancaman tersebut nyata meski kita mungkin tidak menyadarinya.

Well, saya senang dengan komitmen Pak Jokowi untuk memotong birokrasi dan memudahkan terutama para pelaku start up. Dan saya melihat hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Sebelum menghadiri acara ini, beberapa minggu sebelumnya saya hadir di Kibar (co-working space yang digawangi Yansen Kamto di Cikini) di situ ada seminar kecil berjudul Unravel Travel dan apa yang saya sadari penyelenggaranya adalah BNV Labs dan Lab Kinetik yang sebenarnya merupakan percabangan Bank Bukopin.

Saya sendiri sedang menyiapkan sprint untuk fase dua di bulan Oktober ini karena kami akan melakukan monetizing di bulan Desember nanti (tentunya jika semua berjalan sesuai rencana), yang saya sadari adalah bahwa bank-bank yang memiliki aturan sangat kaku pun sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ekonomi di era digital. Karena jika mereka cerdas mereka tidak akan mengabaikan pasar baru yang terus tumbuh dengan pesat ini. Untungnya mereka cerdas dan mau keluar dari zona nyaman dan mau ikut berubah, meskipun beberapa aturan harus mereka perbarui. Tetapi yang terpenting adalah itu: tidak ada yang menolak perubahan, perubahan itu adalah sesuatu yang pasti, dan kita harus menyesuaikan diri atau mati. Tentu kita tidak ingin bisnis yang sudah kita besarkan bertahun-tahun hilang begitu saja bukan? Hanya karena kita tidak mau berubah? Because this is our legacy.

Ekonomi baru di era digital ini adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa kita hindari bagaimanapun caranya.

Sekian dan terima kasih.

Jakarta, 29 September 2017