The Power of Waking-Up Early

Good morning sunshine,

Bahagia itu sesederhana ketika kamu bisa bangun pagi. Mengingat terakhir kali saya punya jam tubuh seperti sekarang hari ini (bisa bangun sebelum jam 4) justru dulu waktu masih balita.

I will always remember that happy memories, jam segini orang-orang mulai siap-siap ke pasar, ke sawah, ibadah, bahkan jogging dan saya yang masih kecil nggak mau ketinggalan, ikut jalan-jalan padahal di luar masih gelap, tetapi tenang dan udaranya sejuk.

Saya bahkan masih ingat orang-orang yang saya temui dan rumor-rumor mistis yang beredar.

(mendadak jadi homesick kan)

Kenapa saya yang dulu super-sangat-anti bangun pagi mau bangun pagi? Karena di usia saya sekarang saya menyadari waktu sangat berharga, kita sama-sama cuma punya 24/7 setiap harinya, dan saya ingin memaksimalkan itu.

Pagi ini saya udah meditasi sambil dengerin musik klasik, rapiin daily task dan assign task ke anak-anak, terus sekarang nulis blog. Saya masih punya deretan task sampai nanti jam 1 siang, berhubung hari ini ada janji ketemu sama papa dan jadwal pulang ke rumah sebentar, malemnya balik kosan lagi dan besoknya mengulang habit yang sama.

I love what I do, tho, head into heels

Next blog mungkin saya akan bahas mengenai meditasi.

Advertisements

Menyongsong Ekonomi Baru Indonesia Di Era Digital

(ditulis di detik-detik terakhir menjelang deadline, semoga tulisannya tetap readable dan berisi)

Well, saya lupa sejak kapan mulai menarik diri dari acara-acara yang pro dan kontra pemerintah karena merasa lelah dengan perdebatannya. Tetapi untuk undangan tertentu memang susah untuk saya tolak karena terlalu tempting—apalagi dengan keynote speaker Presiden Joko Widodo. Dari jaman beliau menjabat gubernur Jakarta sampai beliau dilantik menjadi presiden saya belum pernah sekali pun menyempatkan diri datang ke acara yang ada beliaunya. Saya pikir kali ini adalah momen yang tepat karena saya sudah peduli setan dengan ingar-bingarnya politik Indonesia dan fokus berbisnis, menggarap start up saya yang bergerak dibidang IT dan pariwisata. Karena menurut saya dibanding saya berbicara sampai berbusa-busa tentang politik lebih baik saya berkontribusi terhadap negara dengan cara yang nyata. Toh tujuan saya bukan jadi terkenal tetapi bagaimana saya ke depan bisa ‘menjual Indonesia’ melalui aset pariwisatanya ke dunia. Cita-cita saya adalah saya ingin dunia mengenal keindahan Indonesia melalui pariwisata. Dan saya tahu butuh bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk melakukan ini tetapi saya sudah berkomitmen dan memulainya, meskipun lambat saya melangkah di jalan yang benar.

Namun di kesempatan kali ini saya bukan di undang sebagai seorang inisiator start up tetapi masih sebagai aktivis sosial media yang memang sejak dulu pro dengan Pak Jokowi. Dikalangan Mister Jokowi’s Fanboys dan para buzzer, saya bukanlah orang yang terkenal. Bahkan mungkin rekan-rekan tidak ada yang mengenal saya. Hanya saja tampaknya saya belum dilupakan dan masih diikut sertakan untuk beberapa acara seperti event kali ini, terima kasih lho ya.

Saya adalah salah satu anak muda di luar sana yang percaya dengan kepemimpinan Pak Jokowi Ahok bahwa beliau akan membawa perubahan dan itulah yang saya tunggu-tunggu dan sejauh ini beliau belum mengecewakan karena terbukti saya masih berdiri di dalam kerumunan barisan pendukung beliau.

Oiya alasan kedua saya selain keynote speaker kali ini adalah Pak Jokowi karena tentunya tema yang kali ini diusung: Ekonomi Baru Di Era Digital di mana di sana saya menjadi salah satu pelakunya. Beberapa pelaku start up yang menjadi pioneer di undang sebagai speaker, belum lagi para pelaku bisnis online lainnya yang sukses juga dihadirkan.

Sebagai seorang yang memulai start up tentunya saya mengerti beberapa kesulitan teman-teman yang sudah lebih dulu terjun, apa saja peta permasalahan yang kami hadapi di lapangan. Seperti apa yang dikatakan Nadiem Makarim bahwa kita membutuhkan sumber daya manusia yang handal jika ingin maju, tetapi sumber daya tersebut tidak akan bisa kita peroleh dengan maksimal jika kita tidak mempersiapkannya sejak dini—dan disitulah peran pemerintah: untuk mempersiapkannya. Tetapi yang ada di dalam kepala saya, kenapa kita harus menunggu pemerintah yang memiliki biroksi njlimet itu untuk melakukan sesuatu terlebih dahulu?? Karena saya yakin ketika kita berubah, pemerintahpun akan ikut berubah. Saya jadi ingat kata-kata Gaery Undarsa di salah satu acara Fintech, persiapkan sistem itu untuk pemerintah (seperti yang sudah dia lakukan untuk membantu PT. KAI dan Pak Jonan). Dan itulah yang saya lakukan bersama tim saya sekarang, ketika sistem ini jadi itu akan saya jadikan kejutan.

Kembali lagi pada apa yang dikatakan Nadiem Makarim bahwa kita saat ini kekurangan sumber daya manusia.

(by the way, akhirnya saya sudah memutuskan tidak meluluskan D3 saya di bidang pajak, tetapi untungnya semua ilmunya sudah saya serap dan ternyata tidak sia-sia saat saya memiliki perusahaan sendiri)

Dari kegagalan saya di atas, saya mempelajari jika kurikulum kita baik itu di universitas ataupun sekolah sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan pasar di luar sana. Saya mewawancarai calon-calon intern baru di start up saya mulai dari universitas negeri yang kondang sampai swasta yang bahkan namanya saya tidak kenal, antara ekspektasi saya dengan realita berbeda jauh. Di sini saya merasa sedih, berapa puluh ribu lagi fresh graduate tanpa skill yang harus kita luluskan dan mereka tentunya kalah dalam bursa pencarian kerja untuk mendapatkan posisi yang sesuai dengan kerja keras mereka selama duduk di bangku pendidikan.

Pertama, mereka akan dihargai murah. Kedua, mereka hanya akan melakukan pekerjaan administrasi yang remeh dengan gelar dan pendidikan mereka yang tinggi, apa itu tidak sayang? Apakah itu sepadan? Karena saya yakin agent of change sendiri pun harus kita persiapkan dan ciptakan, tidak muncul begitu saja dari ketiadaan, mereka harus diarahkan dan didampingi untuk memiliki motivasi dan visi-misi yang besar. Dan kita ingin anak-anak Indonesia ber-jiwa seperti itu seluruhnya. Bermental petarung, pemenang, bukan orang yang pasrah dengan kehidupan dan menghalalkan segala cara bahkan jika itu harus curang.

Ketiga, tanpa skill mereka sulit mendapatkan pekerjaan dan otomatis ada dalam daftar pengangguran. Keempat, perusahaan adalah badan yang realistis. Uang kami paling banyak keluar untuk membayar karyawan dan tentunya kami ingin orang yang kompeten. Kami bukan lah badan amal yang merelakan uang kami terbuang sia-sia. Kami ingin hasil, dan jika calon-calon tenaga kerja Indonesia tidak memiliki kompetensi tersebut untuk apa kami membuang uang kami untuk mereka? Karena karyawan bagi kami adalah investasi. Kami ingin proses perusahaan kami berjalan cepat bahkan jika kami harus meng-hire tenaga kerja dari luar akan kami lakukan, belum lagi mereka mau dibayar lebih murah—dan realitas di lapangan, itulah yang terjadi di dunia start up, banyak start up lebih memilih developer luar negeri karena hasil kerja mereka lebih baik dan harga mereka lebih murah. Apalagi bagi pelaku-pelaku start up kecil seperti kami, IT-IT kompeten sudah diborong oleh start up besar dan dengan iming-iming gaji yang sepadan, kami hanya memperoleh sisa-sisanya saja, IT kelas dua dan kelas tiga. Padahal kami ingin melihat perusahaan tumbuh dengan cepat agar visi-misi kami segera tercapai. Tetapi antara rasa nasionalisme dan realitas terkadang harus berbenturan.

Hal-hal seperti ini lah yang harus diselesaikan pemerintah dan disadari oleh anak-anak muda jaman sekarang. Mereka harus mau belajar lebih gigih, harus selalu ingin tahu, dan jangan hanya menerima apa yang disodorkan bangku sekolah di bawah hidung mereka saja. Karena hutan rimba yang sebenarnya ada di luar sana. Hidup ini tidak mudah bagi kita dan ancaman tersebut nyata meski kita mungkin tidak menyadarinya.

Well, saya senang dengan komitmen Pak Jokowi untuk memotong birokrasi dan memudahkan terutama para pelaku start up. Dan saya melihat hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Sebelum menghadiri acara ini, beberapa minggu sebelumnya saya hadir di Kibar (co-working space yang digawangi Yansen Kamto di Cikini) di situ ada seminar kecil berjudul Unravel Travel dan apa yang saya sadari penyelenggaranya adalah BNV Labs dan Lab Kinetik yang sebenarnya merupakan percabangan Bank Bukopin.

Saya sendiri sedang menyiapkan sprint untuk fase dua di bulan Oktober ini karena kami akan melakukan monetizing di bulan Desember nanti (tentunya jika semua berjalan sesuai rencana), yang saya sadari adalah bahwa bank-bank yang memiliki aturan sangat kaku pun sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ekonomi di era digital. Karena jika mereka cerdas mereka tidak akan mengabaikan pasar baru yang terus tumbuh dengan pesat ini. Untungnya mereka cerdas dan mau keluar dari zona nyaman dan mau ikut berubah, meskipun beberapa aturan harus mereka perbarui. Tetapi yang terpenting adalah itu: tidak ada yang menolak perubahan, perubahan itu adalah sesuatu yang pasti, dan kita harus menyesuaikan diri atau mati. Tentu kita tidak ingin bisnis yang sudah kita besarkan bertahun-tahun hilang begitu saja bukan? Hanya karena kita tidak mau berubah? Because this is our legacy.

Ekonomi baru di era digital ini adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa kita hindari bagaimanapun caranya.

Sekian dan terima kasih.

Jakarta, 29 September 2017

[Kumpulan Resep] Fancy Chicken: Meals Plan 17-21 Agustus 2017

Hari ini tumbang sakit, tapi plan banyak banget and I’m full of a lot of idea (nulis ini sambil menahan keinginan untuk muntah)—agak kontradiktif sih dengan apa yang mau saya tulis. Pokoknya sakit nggak sakit pagi ini saya akan ke pasar buat belanja keperluan seminggu ke depan dan kudu tetep kerja karena deadline Wanderial & Jadi Mandiri numpuk di hari ini (iya, mo mati rasanya).

Omong-omong, tulisan ini saya dedikasikan buat Didi Iriana yang lagi hobi masak kue. Ini resep meals plan saya yang terealisasi tanggal 17-21 Agustus lalu.

She said I cook fancy stuffs, but I’m not, it depends on the mood.

Buat sekarang share dulu resepnya, foto menyusul kapan-kapan karena saya gak hobi foto 😦 which is sad, it will be really nice if I have that kind of hobby too (berjanji untuk membiasakan diri tapi lupa mulu)

Oiya, meals plan saya kali ini penuh dengan racikan ayam dan emang fancy sih, tapi minggu ini kayaknya saya bakalan lebih banyak menyantap masakan Indonesia.

Resep Ayam Teriyaki  I

Bahan:

  • 2 paha ayam  tanpa tulang potong dadu
  • 4 buah jamur shitake potong menjadi 4 bagian
  • 1 buah daun bawang (iris halus)
  • Paprika merah (cukup separuh, potong dadu)

Bumbu:

  • Sea salt & merica segar tumbuk halus secukupnya
  • Cabai rawit hijau diiris
  • Jahe 3 iris digeprek
  • 4 siung bawang putih (cincang halus)
  • 1 buah bawang bombay diiris
  • 1 buah jeruk limau
  • Madu secukupnya
  • Kecap asin secukupnya
  • Penyedap rasa secukupnya
  • Butter secukupnya
  • Kecap manis secukupnya (hanya untuk memberikan warna kecoklatan)
  • Gula secukupnya
  • Bumbu teriyaki secukupnya

Cara Memasak:

  • Panaskan butter masukan jahe & cabai
  • Tumis ayam & jamur lalu masukkan garam & merica
  • Masukan bawang bombay, bawang putih, paprika
  • Tambahkan bumbu teriyaki, kecap manis, kecap asin, madu, gula sampai rasa pas
  • Tambahkan perasan jeruk limau dan penyedap rasa, tambahkan bumbu-bumbu yang masih kurang
  • Masak sampai matang dan Ayam Teriyaki siap dihidangkan 🙂

Resep Ayam Teriyaki II

Resep dasarnya sama dengan resep yang pertama, bedanya sebelum saya tumis ayam saya bumbui dulu dengan merica, garam dan bumbu teriyaki, baru saya tumis di atas minyak zaitun (ini karena butter habis), saya juga menambahkan nanas sebelum ayam diangkat.

Oiya kata si pacar 3 slice jahe terlalu gingery banget, mungkin bisa dicoba di 2 atau 1 ½ slice.

Resep Limau Chicken Packs

Bahan:

  • Dada ayam, boneless (potong menjadi 2 bagian sama besar)
  • Jamur shitake 4 buah, masing-masing belah menjadi 2 bagian
  • 1 buah daun bawang potong seukuran dua ruas jari
  • 4 buah cabai rawit merah (cabai setan)
  • Aluminium foil

Bumbu:

  • Butter
  • Minyak zaitun secukupnya
  • Sea salt & merica digerus halus secukupnya
  • Parsley secukupnya
  • Basil kering
  • 1 buah bawang bombay dipotong tipis
  • 4 siung bawang putih geprek (tidak perlu dikupas)

Cara Memasak:

  • Haluskan garam dan merica
  • Lumuri ayam, potongan jamur, potongan daun bawang, bawang bombay, cabai setan dengan minyak zaitun, garam, merica, parsley, basil, perasan lemon (jangan ragu ketiga menambahkan garam karena jamur dan ayam menyerap bumbu).
  • Bungkus ayam dalam 2 pack aluminium foil (kalau suka yang agak kering lubangi pembungkusnya tapi ini akan menyebabkan teflon gosong).
  • Ayam siap di panggang di atas teflon selama 10 menit, bolak-balik supaya tingkat kematangan merata (kalau saya membalik-baliknya setiap 2 ½ menit sekali).

Resep Roasted Herbed Red Potatoes

(tetapi saya memakai ubi ungu, bukan ubi merah)

Bahan:

  • 2 buah ubi ungu

Bumbu:

  • Sea salt & merica segar dihaluskan secukupnya
  • Rosemary secukupnya
  • Minyak zaitun secukupnya
  • Butter secukupnya (pakai wisman, ini enak dan recommended banget, meskipun emang mahal)
  • 1 buah bawang bombay dipotong tipis
  • 4 buah bawang putih digeprek tanpa dikupas kulitnya
  • Bubuk bawang putih

Cara Memasak:

  • Rebus ubi ungu sampai matang, potong dadu dengan ukuran besar supaya tidak hancur
  • Tambahkan minyak zaitun (ubi ungu menyerap minyak, so yah…)
  • Tambahkan rosemary, garam, merica, bubuk bawang putih
  • Tambahkan bawang bombay dan bawang putih
  • Aduk-aduk terus sampai bumbu tercampur rata dan rasa pas
  • Masak ubi di atas butter, tambahkan lagi butter saat ubi sudah matang dan ada di atas piring
  • Ubi siap disajikan

Resep Chicken Bombs

Bahan:

  • ½ dada ayam (saya tumbuk karena tidak punya penggilingan, pakai ayam giling lebih bagus)
  • Cabai rawit hijau utuh
  • Paprika hijau
  • Keju mozzarella
  • Daun bawang potong sepanjang dua ruas jari
  • 2 buah jamur shitake potong menjadi 4 bagian

Bumbu:

  • Sea salt & merica segar dihaluskan
  • Parsley secukupnya
  • Basil kering secukupnya
  • ½ bawang bombay potong tipis
  • 2 buah bawang putih cincang halus
  • Butter (disarankan—saya tidak menggunakannya karena persediaan habis)
  • Bubuk bawang putih

Cara Memasak:

  • Iris bagian atas paprika dan bersihkan bagian dalamnya
  • Haluskan garam dan merica
  • Tumbuk dada ayam di atas garam dan merica yang sudah dihaluskan
  • Tambahkan jamur shitake, daun bawang, bawang bombay, bawang putih
  • Lumuri dengan minyak zaitun
  • Bumbui dengan parsley, basil, dan bubuk bawang putih
  • Masukkan adonan ke dalam paprika, setiap layer beri keju mozzarella banyak-banyak untuk hasil yang lebih memuaskan, berikan juga butter kalau ada (saat itu paprika saya sampai kepenuhan dan menggunung, tapi tidak apa-apa)
  • Bungkus dalam aluminium foil
  • Panaskan di atas teflon sampai matang (sekitar 15 menit, saya bolak-balik karena belum menemukan waktu yang pas)

Resep Roasted Mini Potatoes I

Memasak Roasted Potatoes bisa dengan banyak cara dan kreativitas, yang ini bukan saya yang menemukan resepnya tapi pacar, ehehehe.

Tapi rasanya yum… yum… tetep enak kok.

Bahan:

  • Kentang kecil-kecil secukupnya
  • Aluminium foil

Bumbu:

  • Garam
  • Merica bubuk
  • Minyak zaitun

Cara Memasak:

  • Lumuri kentang yang sudah dicuci bersih dengan minyak zaitun
  • Bumbui dengan garam dan merica bubuk
  • Bungkus dengan aluminium foil
  • Masak di atas teflon sampai 10 menit (8 menit tanpa dibalik, lalu balik dan panaskan selama 2 menit)

Resep Roasted Mini Potatoes II

Kalau yang ini yang biasa saya buat, hampir mirip dengan cara masak red potatoes btw, sama percis step-stepnya cuma ubinya diganti kentang kecil-kecil yang habis direbus saya potong jadi 2 bagian.

Resep Semur Daging

Bahan:

  • Daging sapi sekitar 150gr, potong dadu (sesuai selera)
  • Daun bawang dipotong sepanjang dua ruas jari

Bumbu:

  • Minyak sayur untuk menggoreng
  • 3 siung bawang putih dihaluskan
  • 3 siung bawang merah dihaluskan
  • 2 iris jahe digeprek
  • 4 buah cabai rawit hijau diiris
  • Bawang bombay diiris tipis
  • Sea salt dan merica segar dihaluskan
  • Kecap manis secukupnya
  • Gula
  • Penyedap rasa
  • Air sedikit saja

Cara Memasak:

  • Lumuri daging dengan bumbu-bumbu yang sudah dihaluskan
  • Tumis daging, jahe dan cabai rawit
  • Tambahkan bawang bombai
  • Tambahkan air, kecap manis, gula
  • Tambahkan daun bawang
  • Tambahkan penyedap rasa dan bumbu-bumbu seperti garam dan kecap manis sampai rasanya pas
  • Semur daging siap dihidangkan

Sebenernya ada beberapa resep yang masuk dalam meals plan tanggal 17-21 Agustus tapi belum saya coba.

Oke, sampai ketemu di meals plan selanjutnya, minggu ini saya akan masak masakan Indonesia karena bosen dengan fancy stuffs, meskipun masaknya bikin happy.

Oiya, untuk makanan sendiri saya makan Ayam Teriyaki dan Semur Daging dengan nasi, sementara untuk Limau Chicken Packs dan Chicken Bombs saya makan dengan ubi dan kentang, karena tidak semua makanan cocok dengan nasi.

Jakarta, 24 Agustus 2017

Lukisan Koleksi Bangsa Dalam Pigura Senandung Ibu Pertiwi

Yay, yay, besok 17 Agustus, selamat ulang tahun Indonesia  ku tercinta ^^ banyak doa kupanjatkan untukmu hari ini, nanti, sampai selamanya. Harapanku sendiri hanya sederhana, semoga kamu menjadi bangsa yang unggul dan rakyatmu adalah orang-orang yang mampu memanusiakan manusia. Amin.

Oke, kita flash back ke 17 Agustus jaman saya masih kecil. Bisa dibilang ini hari yang saya tunggu-tunggu selain ulang tahun saya. Bukan karena upacara benderanya, rasa cinta saya ke upacara justru tumbuh setelah saya lulus sekolah dan nggak wajib lagi ikut upacara 17-an. Saya suka 17-an karena pawai karnaval dan selalu ada pentas seni di kampung di mana saya selalu ikut andil bikin acaranya.

Well, bisa dibilang saya seneng ikut lomba 17-an. Sayangnya setelah SMA saya pindah ke kota dan kehilangan momen-momen macam itu. Dan saya yakin banyak orang yang cukup clueless harus mengisi 17-annya dengan kegiatan macam apa.

Mungkin blog saya kali ini bisa jadi inspirasi. Masih ada 3 hari lagi, belum terlambat.

Jadi, beberapa hari lalu saya dapat undangan dari Jadi Madiri untuk datang ke Galeri Nasional yang lekas-lekas saya iya-in.

Alasannya sesimpel saya jenuh dengan pekerjaan saya dan butuh interaksi, ketemu teman-teman lama dan berharap bisa kenalan dengan blogger-blogger kece lain. Tapi apa daya bahkan di tengah-tengah acara pun saya masih harus terima telp dari client. Untungnya, ada 3 orang temen lama yang gantian ngobrol dengan saya, di situ saya merasa senang dan betah.

Fyi, ini pertama kalinya saya ke Galeri Nasional dan ini pertama kalinya juga saya lihat koleksi lukisan asli, pathetic yes?! I know I am.

Saya tahu saya akan menjadi penikmat karya seni, and one day if I have all the money in this world I will collect them all and make them mine #heh oke terdengar sombong, tapi mengingat mimpi masih gratis jadi saya mau melakukannya banyak-banyak.

Intinya adalah kalau kamu nggak se-pathetic saya dan pernah ke Galeri Nasional tapi nggak dateng ke acara Senandung Ibu Petiwi, it will be your biggest lost. Alasannya? Karena nggak setiap hari kalian bisa menikmati lukisan yang menjadi koleksi Istana Negara ini.

Yap, saya masuk ke galeri temporernya dan galeri permenennya Galeri Nasional, dan koleksi istana bisa dibilang the best of the best. Di sana saya bisa menikmati lukisan Affandi, Basuki Abdullah, dan Raden Saleh juga pelukis-pelukis lain yang namanya belum saya kenal dan harus saya intip lagi lewat catatan, I know I’m pathetic but at least I’m honest.

Sebagai seorang amatir saya betul-betul dibuat terpesona.

Tapi pertama-tama sebelum masuk ke cerita biar saya berikan gambaran dulu bagaimana mereka membagi lukisan-lukisan ini ke dalam beberapa tema: Keragaman Alam, Dinamika Keseharian, Tradisi dan Identitas, Mitologi dan Religi. Dan semuanya mesmerizing.

Saat kita masuk (yang mana harus diperiksa dulu dan wajib nitipin kunci & lipstik) kita langsung disambut lukisan tema pertama yang bercerita keragaman alam Indonesia. Yang paling nggak bisa saya lupakan lukisannya Raden Saleh “Harimau Minum” itu detil dan pencahayaannya luar biasa. Saya yakin dia bukan manusia pas membuat ini. Lukisan ini dibuat tahun 1863 dan masih sangat baik dan terawat. Saya penasaran beliau butuh berapa lama untuk melukis ini. Bakatnya betul-betul layak dipuji.

Nah diseksi lukisan ini saya mendengarkan penjelasan guide. Menariknya adalah lukisan karya Basuki Abdullah yang berjudul “Pantai Flores” (1942) ternyata lukisan ini diduplikasi dari lukisan Bung Karno atas seijin pemiliknya. Well, Bung Karno sendiri pengangum Raden Saleh dan saya tahu kenapa, he is talented in that era, I believe I will love him too, because now I’m in love with his painting.

Kita move ke dinamika keseharian yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia (yang mana pelukis jaman sekarang pasti inspirasinya udah lain, udah berbeda). Kalau jaman dulu kita akan disuguhi dengan orang-orang bajak sawah dengan kerbau, orang-orang di pelelangan ikan, orang-orang menggembala domba, kehidupan menjual ayam, tari-tarian tradisional, kalau sekarang?!

Di seksie ini lukisan yang paling menarik adalah karya Lie Man Fong, saya pikir lukisan apa nih nyasar. Dan guide akhirnya jelasin kalau lukisan ini Lukisan Penjual Sate Madura. Mereka nggak pakai gerobak dorong tapi dulu dipanggul (saya kadang masih lhat sih orang jualan sate dipanggul tapi sepertinya itu bukan lagi jadi simbol penjual Sate Madura) tahu kan mereka kayak apa?

Tema ketiga adalah tradisi dan identitas, di sini rata-rata lukisan perempuan semua pakai kebaya rata-rata, cantik-cantik. Yang membuat ganjil adalah di antara lukisan yang sebelumnya diperoleh di era Soekarno ada 2 buah lukisan era Soeharto, mereka adalah penari Kalimantan Timur. Konon dua lukisan itu dibuat untuk mempromosikan wisata Kaltim.

Nah, seksi terakhir ada tiga lukisan yang saya suka karena cantik-cantik. Dan tiga-tiganya lukisannya Basuki Abdullah. Saya suka lukisannya yang berjudul Nyai Roro Kidul, Gatot Kaca dengan Anak-anak Arjuna Pergiwa-Pergiwati, dan terakhir Djika Tuhan Murka. Entah bagaimana tiga lukisan itu berhasil menyihir saya, the best of the best.

Di sini saya belajar jika gambar pun mampu bercerita dan membuat kita abadi.

Mumpung belum 20 Agustus langsung cuss aja ke Galeri Nasional, karena belum tentu tahun depan koleksi-koleksi ini dipajang,

Jakarta, 16 Agustus 2017

Kebiasaan Buruk Travel Blogger Wanna Be

Ini adalah tulisan nggak penting yang bahas masalah yang juga sama nggak pentingnya. Tapi kalau kamu travel blogger mungkin bakal dapat masukan setelah baca ini.

Saya adalah orang yang seneng jalan-jalan, otomatis sering banget cari informasi soal destinasi wisata selanjutnya (yang lagi saya cari tahu sekarang Coron Island, coming soon Phnom Penh & Morocco), anyone yang mau ikut saya berpetualang silahkan kontak aja lewat twitter, tolong abaikan nama dan cuitan saya yang absurd nan random.

Kesulitan saya selama ini pas lagi riset suatu lokasi entah itu di blog atau cuma komentar pendek adalah orang-orang cuma menjelaskan tentang tempat itu indah tapi nggak bahas sampai detil ke biaya, ada apa aja di sana, apa yang akan kita hadapi, waktu tempuh, opsi perjalanan dll.

Well, saya sendiri belum pernah menulis satu blog soal destinasi wisata secara serius, bahkan bisa dibilang tulisan di blog saya di bawah so… so… tapi mungkin dalam waktu dekat saya bakalan nulis soal Maldives dan Bali buat dijadikan contoh supaya setiap orang yang baca cukup merasa puas dan akhirnya mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.

Nah, saya mengharapkan teman-teman yang hobi jalan-jalan sekaligus menulis bisa membagikan pengalaman sampai sedetil-detilnya, supaya orang yang baca blog kita betul-betul memperolah manfaat. Kira-kira seperti itu aja sih 🙂

Jakarta, 7 Agustus 2017

Maldives: Backpacker Atau Open Trip?

(proses  ngumpulin ulang mood buat nulis)

Well, gue sebenernya pengen blabbering soal topik ini tadi pagi jam 8 di twitter, but ya, apa daya kudu siap-siap ke kantor etc, dan terpaksa ceritanya gue tunda. Nah, karena gue pengen masukin habit nulis blog supaya berubah jadi manusia-100%-blogger jadilah ceritanya nggak gue twit tapi gue tulis di sini, dengan harapan tulisan ini nggak lekang oleh waktu dan bisa jadi referensi selama info yang gue kasih masih relevan.

Kenapa Maldives?

Karena gue jadi founder sese-web yang jualan product ini. Jadi anggaplah ini soft selling sambil gue transfer ilmu buat kalian yang pengen banget jalan-jalan ke Maldives tapi budget terbatas.

Maldives itu ‘relatif’ aman, jadi kalau kalian pengen backpacker sendirian atau berdua atau bertiga, it’s okay. Syaratnya adalah kalian cukup punya waktu, karena yang namanya backpacker pasti nyari murah tapi kudu siap menempuh perjalanan yang agak ribet dan memakan waktu.

Penerbangan dari Indonesia ke Maldives selalu tiba malem. Kalian bisa pakai Tiger Air, Air Asia, atau Srilankan Airlines. Kalian bisa pilih dan combine, cari harga yang paling nice.

Kalau kalian ikut open trip, tiket yang dikover cuma 3 juta itu pun dari Kuala Lumpur atau Singapore, jadi kalau ada tambahan biaya bakalan dibebankan lagi, as usual, meskipun banyak yang expect dari Indonesia harganya segitu, meh.

(iya, meh, karena di situ saya sering merasa sedih pas menjelaskan)

Kalau kalian nggak dapet tiket promo, harga normal tiket ke Maldives 3,8jt – 4,8jt dari Jakarta. Kalau dapet promo tiket dari Kuala Lumpur ke Maldives cuma 1,5jt-an. Jadi kalau pengen ke Maldives rajin-rajinlah hunting tiket promo.

Oke, balik lagi ke poin satu kenapa Maldives ‘relatif’ aman? Karena gue pas pertama kali survey ke sana di Kota Male-nya kena scam. Untung cuma keluar uang $10 buat bayar jasa guide yang ngehe.

Jadi untuk pergi ke Pulau Maafushi kalau kita backpacker, dari Bandara kudu naik kapal ke Pulau Male dulu, nah untuk ke sana masih simpel, tiket dibeli di loket bandara dan kapal-kapal cepat juga berlabuh di depannya. Aman. Perjalanan dari Bandara ke Kota Male juga nggak lama. Yang nggak aman adalah pelabuhan yang menanti kita setelahnya, karena di sana banyak scam, so be careful, sebaiknya cari info yang banyak kalau ke sini.

Dari sini kalian bisa lihat Kota Male yang nggak bagus-bagus amat, mulai dari istana presiden, masjid, dll. Di sini nyaris nggak ada street food, dan toko souvenirnya pun meragukan, sebaiknya jangan belanja di sini sih saran gue langsung lanjut aja naik taksi ke pelabuhan di sisi lain Kota Male, di mana kapal ferry tujuan ke Maafushi berlabuh.

Kenapa gue nggak menyarankan kalian belanja di sini? Karena gue gak mau kalian kena scam bahkan pas belanja di toko souvenirnya (kecuali kalau mau belanja makanan di bakery atau apa). Pokoknya jangan bertampang bingung dan hindari tanya ke orang di Kota Male, jauh lebih aman kayak gitu, dan taksi juga ditawar dulu sebelum naik, harganya cuma $3, kalau lebih bye aja cari yang lain. Dan meskipun kalian mau backpacker jangan bodoh dengan memilih jalan kaki meskipun Kota Male itu kecil. Soalnya lumayan juga makan waktunya. Tahu sih ngirit, tapi nggak gitu juga kali. Kapal ferry ke Maafushi cuma dua kali sehari, hari jumat nggak ada jadi ini bahan pertimbangan juga kenapa kalian harus melakukan efisiensi waktu terutama kalau pilih kapal yang jadwalnya siang bukan pagi, dibanding ketinggalan terus terlantar dan harus nginap di Kota Male kan? Mana hotel di sana so… so… dan harganya mahal.

Gak enaknya backpacker ke Maldives cuma di situ sih, kalaupun kalian mau sewa speedboat sendiri harganya mahal. Enaknya pakai jasa open trip pas ke Maldives adalah sampai bandara kalian udah dijemput dan harga paketnya flat kalian berangkat ber-berapa pun. Karena kebanyakan open trip ke Maldives menerima minimal dua orang.

Jadi,

  1. Kalian menghemat waktu karena perjalanan dari Bandara ke Maafushi cuma 45 menit via speedboat
  2. Kalian lebih ngirit karena nggak perlu nginep di Kota Male atau Hulhumale karena nggak ada ferry ke Maafushi pas malem
  3. Terhindar dari scam

Oiya, hotel di Maldives harus udah di book dari Indonesia ya, jangan merepotkan diri book atau nyari di sana.

Nah itu sih tips kalau kalian super low budget traveller, nanti gue kasih lagi tips kenapa lebih baik ikut open trip di tempat gue dari pada pergi sendiri kalau kalian mau ke Maldives tapi nginep di resort-resortnya. Tunggu ya 🙂

Jakarta, 4 Agustus 2017

I Will Always Be Daddy’s Little Girl

Saya pernah membaca sebuah tulisan dan mengamini isinya. Ketika kita masih anak-anak kita percaya ayah kita bisa melakukan dan memberikan apapun ke dalam genggaman tangan kita. Tetapi seiring kita tumbuh dewasa kita menyadari ayah kita hanya manusia biasa dengan begitu banyak kekurangan dan kesulitan, ia bukan superhero atau santa klaus yang setiap saat bisa membantu dan mengabulkan permintaan kita. Tetapi lama sekali saya terjebak dalam tempurung pemikiran anak-anak itu. Bahkan ketika saya belajar melepaskan diri dari belengu pikiran itu dan mulai belajar mandiri, pada saat menemui kesulitan atau jalan buntu saya akan datang pada ayah saya meminta bantuan beliau untuk menyelesaikan masalah-masalah saya. Saya akan menangis dan merenggek seperti Johnny Fontane di hadapan beliau. Karena di mata saya papa akan selalu seperti Don Corleone yang tidak akan membuang saya dan akan selalu mengabulkan permintaan saya.

Tetapi keluarga saya bukan keluarga mafia, kami hanya keluarga kecil biasa dengan sangat sedikit jumlah anggota keluarga sehingga kami hanya memiliki satu sama lain. Kesadaran itulah yang membuat saya menjadi tipe orang yang cenderung family centris. Secara emosional saya terikat dengan anggota keluarga saya. Kesulitan mereka menjadi kesulitan saya. Kesedihan mereka menjadi kesedihan saya. Senyum dan kebahagiaan mereka menjadi senyum dan kebahagiaan saya. Dengan pemikiran seperti ini ketika melihat salah satu dari mereka berselisih, saya akan berada di tengah-tengah agar keluarga saya tetap utuh. Meski luka itu ada saya yakin maaf dibantu dengan kekuatan waktu akan menyembuhkan luka kami perlahan-lahan.

Love you fams, mucho.

Jakarta, 17 Juni 2017